Friday, February 26, 2021

LEMBAYUNG

Waktu itu, lembayung sudah mulai nampak
Semu jingga berhias gurat kemerahan
Tampak indah...
Tapi itu semua adalah akhir untuk hari yang indah

Semakin dinikmati, warna yang cantik itu semakin gelap
Bagai ucapan selamat tinggal
Perlahan pudar dan tak tersisa
Kepakan sayap burung walet menjadi penutupnya

Semua yang indah akan pergi
Semua yang bahagia akan pergi
Semua yang menenangkan akan pergi
Semua akan pergi tak terkecuali

Pikirku, cahaya itu akan muncul lagi esok
Pikirku, apakah itu cahaya yang sama?
Pikirku, bagaimana ternyata ini adalah akhir?
Pikirku, semua tidak akan baik-baik saja

Gelapnya semakin pekat
Kecintaanku pada hari itu lenyap
Karena sudah tak bisa kuraih dan hanya bisa kuharap
Apakah ini yang dinamakan puncak tertinggi dari mencintai adalah melepaskan?


21 Desember 2020

Sukandi, Pecinta Sundari

Sukandi, nama salah satu anggota Klub Edukator di Museum KAA. Awal ketemu entah bagaimana. Mungkin pernah ketemu sebelumnya di rangkaian acara KAA 2015. Tapi samar-samar mulai kenal saat Asmi sedang PKL di Museum KAA. Banyak kegiatan mahasiswi PKL yang berhubungan dengan Klub Edukator dan akhirnya sering ketemu. Sukandi ini anggota tetap Tim Logistik Museum KAA selain Hagi dan Fale. Kemana mana selalu bertiga. Sudah seperti logistik warriors. Tidak pernah berubah posisi kepanitiaan. Selalu ditempatkan di logistik. Mungkin pernah, tapi seringnya di logistik.

Saking seringnya berada di satu kegiatan yang sama, mahasiswi PKL dan beberapa teman dari edukator menjadi lebih dekat satu sama lain. Sering berbagi cerita dan tawa. Sampai larut malam pun akan dilakoni karena pembahasan kita kebanyakan tentang sejarah.

Sosok Sukandi, dulu bagian dari sejarah UNPAD, menjadi sering ditanya perihal sejarah oleh kami mahasiswi PKL yang sejarahnya hanya sekedar tahu. Banyak hal yang didapat. Hingga akhir perjalanan hidupnya, ia masih aktif di Museum KAA sebagai edukator.

Momen Oetari bersama Sukandi tidak banyak, tapi bisa membuat berkesan. Tidak hanya tentang "bengek"nya bahkan cintanya yang hanya untuk Sundari atau bahkan kawannya epul. Sukandi adalah sosok yang selalu ada saat temannya kesulitan. Kisahnya sebagai pejuang Benteng Skripsi menjadi cerita paling epik. Membantu teman temannya untuk lulus bahkan dia pun masih berjuang untuk lulus.

Pernah, suatu waktu, kita berdua pergi untuk pengajuan proposal sponsorship ke daerah Padalarang. Berangkat pagi sekitar jam 8an. Kita ketemu di Museum KAA. Menyusuri pabrik pabrik berharap proposalnya di acc, apa daya hanya bisa sampai proses memberikan proposal saja. Sedangkan waktu masih sekitar jam 10.

"Pernah ke stone garden, gak?"

Pertanyaan ini memulai perjalanan kita ke stone garden dan ke gua (dan oetari lupa namanya). Perjalanan yang menanjak sampai kaki agak nyut nyutan. Tapi sepanjang jalan, Sukandi memberikan informasi layaknya sedang museum tour. Banyak cobaannya saat di stone garden. Mulai dari Hujan angin, salah parkiran, sampai foto di tebing batu walaupun petir udah gemerlap gemerlap, kita optimis harus ambil foto di sana. Karena lumayan, udah bayar tiket dan kaki nyut nyutan.

Asmanya kambuh waktu pulang. Kita rehat dulu di warung biar dia juga bisa menstabilkan lagi pernapasannya. Kawan ini sudah persediaan obat asmanya. Dia bilang tidak masalah. Saat itu memang hawanya dingin banget. Hampir 1 jam, baru dia bilang kita harus pulang.

Sepanjang jalan dia cerita tentang epul bahkan sundari. Epul memang seseorang yang selalu dia ceritakan dan sosoknya ada di dunia ini. Tapi sundari? Belum pernah Sukandi menunjukan Sundari baik dalam wujud nyata berupa manusia atau foto. Masih menjadi misteri..

Kini, Sukandi sudah tenang. Bengeknya sudah hilang. Tapi kenangannya tentang Sukandi masih ada. Untaian ceritanya tentang epul, sundari, dan benteng skripsi masih berbekas.

Senang bertemu denganmu, kawan.
Sampai jumpa lagi, Sukandi.

25 Desember 2020

AKU RINDU

Aku tahu ada hati yang kau jaga
Dan ada hati yang berharap
Sedangkan hatiku bukan apa apa

Tapi bisakah aku berziarah waktu
Untuk hatiku yang sedang merindu?

23 Desember 2020

IA MELUAP

Didiamkan ternyata semakin meluap
Genangannya mulai tak karuan
Tak bisa kubiarkan terlalu lama
Sebab akan menguap dan hilang

Akhirnya..
Kupindahkan dalam satu kotak besar
Kupindahkan dengan hati-hati
Hingga tak ada yang tertinggal

Kututup dan kukunci rapat-rapat
Kunamai pandora,
Agar tak seorang pun berani membuka
Agar semua tetap menjadi rahasia

Tapi sampai detik ini
Luapannya masih ada
Masih terus kukumpulkan dalam kotak itu
Entah sampai kapan

...

Karanggantungan, Juni 2019

Thursday, February 25, 2021

Pendam saja...

Bagi sebagian orang, bukan hal aneh untuk menyukai seseorang. Sebelumnya aku berpikir bahwa menyukai seseorang ada sebuah karunia yang indah yang diberikan Tuhan. Tapi itu semua berubah dua bulan belakangan ini. Aku menyukai seseorang. Tidak dipungkiri beberapa tahun ke belakang aku juga menyukai beberapa orang. Tapi hanya sebatas kesenangan pribadi saja. Toh mereka tahu pun tidak ada gunanya. Malahan mereka akan merasa jijik dan risih. Begitu pun sekarang.

Berbeda dengan kasus ini. Aku menyukai dan dia seperti memberikan umpan balik. Hingga akhirnya perasaan ini akan kukubur dalam dalam karena sudah tidak layak. Benar apa yang kupikirkan. Tidak ada laki laki yang mau dengan seorang Oetari. Umpan balik yang dia berikan, hanya sekedar main main. Aku hanya sebagai cemoohan.

Semua kata kata terburuk sudah dibayangkan.
Kamu gak ngaca? Kamu gendut, hitam, bodoh, kaya pun nggak, nggak punya apa apa, jeleknya keterlaluan. Mau dapetin laki laki? Mohon ngaca dulu.

Bahkan kalaupun jadi, orang lain akan berpandangan
Mau maunya ya dia sama cewek itu.

Tidak hanya orang yang tidak aku kenal yang mencemooh. Bahkan yang kenal pun mencemoohku. Semua lebih baik dipendam saja.

Buat kakimu berdiri dan buat dirimu kuat

"Apakah semua akan berbeda kalau dari awal ku memilih keputusan lain?"

Usiaku kini memasuki masa dimana orang-orang akan bertanya kapan menikah. Sampai detik ini tidak pernah kuhiraukan. Topik itu bukan topik yang menarik dan tidak akan pernah terjadi. Pikiranku terlalu sibuk dengan kehidupan keluargaku. Terlalu banyak yang harus kupikirkan dan tak kusisakan ruang untuk menikah.

Sering ibuku mendapatkan teguran dari tetangga sekitar dan keluarga besarku. Hingga ibu mendapatkan kata "Perawan Tua" yang semakin membuat ibuku gelisah. Pernah ibu mengutarakannya kepadaku dan kubilang kalau ibu tak usah khawatir. Itu bukan hal besar yang harus dipikirkan.

Banyak alasan mengapa aku tidak memilih untuk menikah. Pengalaman buruk dari sahabat-sahabatku, bacaan-bacaanku dan keuangan yang tidak memadai. Dari SMA dulu pun aku tidak memiliki "pacar" ataupun laki-laki yang terikat dalam hubungan. Hubungan itu hanya akan menambah masalah baru dan menyia-nyiakan waktu.

Saat kondisi seperti ini, dimana bapak sudah tidak aktif bekerja karena sakit stroke dan diabetes yang dideritanya, secara otomatis tulang punggung keluarga ada padaku. Gajiku yang pas-pasan, bahkan sering dibayarkan lewat dari tanggal yang tercantum dari kontrak kerja, tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Belum adikku saat ini akan masuk kuliah. Ibuku sudah hampir stres dibuatnya. Adik banyak meminta uang untuk bayar pendaftaran kuliah. Itupun belum tentu masuk. Dua ratus sampai tiga ratus ribu harus kami keluarkan percuma. Tapi aku harus berusaha, agar adikku bisa melanjutkan kuliah. Sering ku arahkan ia untuk ikut ikatan dinas atau kalau tidak masuk, ia harus bisa cari uang sambil kuliah. Setidaknya bisa buat menutupi uang jajannya yang mungkin terbatas nantinya.

Masalah keluarga belum selesai, muncul masalah baru. Gajiku selama 1 tahun, harus kugelontorkan untuk bayar BPJS pakdhe dan keluarganya. Hampir setengah dari gajiku dipotong setiap bulannya untuk bayar BPJS itu. Bukan apa-apa, pakdhe dan keluarga tidak punya asuransi kesehatan, dan suatu hari pakdhe masuk rumah sakit dan harus menjalani operasi. Hampir 10 juta uang yang harus dibayarkan. Uang yang tidak sedikit dan itu semua aku harus ikut bantu. Keluarga mertua pakdhe tidak membantu sama sekali, semua kebutuhan dibantu aku dan keluargaku. Posisi kami pun punya pasien stroke dan diabetes yang harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Jadi BPJS jadi alternatifku untuk meringankan beban rumah sakit kalau sewaktu waktu keluarga pakdhe sakit lagi. Pakdhe sendiri tidak bekerja, istrinya hanya guru PAUD yang gajinya pun tak seberapa. Anaknya pertamanya kuliah di Jakarta, yang kedua Bandung, dan yang ketiga mau masuk SMP.

Aku selalu berfikir, ada orang yang punya masalah lebih berat dari aku. Mengeluh bukan pilihan. Selama kamu bisa bangkit dan bisa melakukan apapun untuk keluargamu, kakimu tidak akan rapuh sedikitpun. Kakimu akan membuatmu berdiri menghadapi semua ini.

Aku selalu mengatakan "AKU BISA!". Ini bukan apa-apa.

BALADA SUARA HATI

 

Dunia ini terlalu berisik untuk mencari ketenangan

Dunia ini terlalu menakutkan untuk mencari kedamaian

Dunia ini terlalu fana untuk berharap adanya realitas

Dunia ini terlalu sombong untuk sebuah keluruhan

 

Dunia ini berisik...

Berisik oleh orang – orang yang terlalu banyak mulut

Membual hal yang begitu kosong

Berteriak – teriak tanpa jiwa

 

Telinga ini pun sudah melampaui kapasitasnya untuk mendengar

Daun telinga ini pun semakin memerah

Tak bisa menghindari bualan

Kalau mulut berteriak, tandanya aku ikut membual

 

Dunia ini terlalu menakutkan...

Iblis pun tak sudi untuk mengedipkan matanya di Dunia

Kurasa Iblis hanya akan tertawa

Melihat betapa bodohnya penghuni Dunia

 

Mengapa banyak sekali menyerukan perdamaian

Tapi banyak pula perlakuan mereka yang tak damai

Kurasa mereka luput satu hal

Berdamai dengan diri mereka sendiri

 

Dunia ini terlalu fana...

Begitu banyak janji

Begitu banyak kebusukan

Begitu banyak topeng pertunjukan yang disajikan

 

Ini bukan panggung, Bung

Janji yang kau ucapkan juga bukan naskah drama

Dunia ini pun sudah semakin tua untuk kau jadikan setting

Terlalu rapuh dan kolot

 

Dunia ini terlalu sombong...

Bukan! Bukan dunia!

Kau yang sombong

Kau yang tak bisa luruh

 

Kau terlalu serakah

Menginginkan semuanya dengan menyakiti sekitar

Kau terlalu naif

Karena tak mau mengakui salahmu

 

Pantas saja kalau langit terus menangis

Pantas saja kalau bumi terus menggigil

Pantas saja kalau mentari terus membelai dengan cahayanya

Pantas saja kalau rembulan juga terlihat pucat

 

Jangan kau terus menerus menggonggong

Cukup kau maafkan dirimu

Cukup kau berdamai dengan dirimu

Maka kau akan berdamai dengan yang lainnya


23 Maret 2017

Wednesday, February 24, 2021

SINGGASANA BELUDRU

 


            LAMPU MENYOROT KE PONDOK KUMUH. MASUKLAH SEORANG PRIA BERPAKAIAN SEDERHANA LALU MENGHAMPIRI PONDOK KUMUH.

PRIA                  : Pemberian bapak masih ada ternyata (MEMBERSIHKAN PONDOK DARI TANAMAN LIAR). Lumayan buat tempat tinggal sementara. Istriku, cepatlah kemari. Bantu aku membersihkan pondok pemberian bapak.

WANITA           : Sebentar (DATANG TERGOPOH – GOPOH). Tadi bajuku tersangkut (MEMPERLIHATKAN BAJUNYA YANG SOBEK).

PRIA                  : Nanti aku belikan baju baru untukmu (MENGELUS KEPALA ISTRINYA). Bantu aku menyalakan obor di pinggir pondok.

LAMPU PADAM LALU MENYALA KEMBALI. TERLIHAT PRIA DAN WANITA TADI SEDANG DUDUK DI PONDOK KUMUH ITU. WANITA SEDANG MENJAHIT PAKAIAN DAN PRIA SEDANG MERENUNG.

PRIA                  : (MEREBAHKAN KEPALANYA KE PANGKUAN WANITA) Kalau saja harta kita melimpah. Mungkin tidak akan seperti ini ya?

WANITA           : Bisa memenuhi kebutuhan saja sudah beruntung (MENJAHIT )

 PRIA                 : Memangnya kau sanggup sampai tua nanti tetap seperti ini? Kalau mau makan harus mencari dulu ke hutan dan mengolahnya sendiri. Kalau mau cuci pakaian, harus ke mata sungai belakang pondok. Semua dilakukan sendiri. Belum lagi harus bayar upeti kepada kerajaan. Mau tidak mau, uang harus dicari.

WANITA           : Hmmm… (TETAP SIBUK DENGAN AKTIVITAS MENJAHITNYA)

PRIA                  : Enak sekali ya yang tinggal minta upeti. Tidak tahu betapa susahnya kita.

WANITA           : Bekerja keraslah. Jangan mengeluh dan patah semangat. Kau melakukan ini untuk bertahan hidupkan? Usahamu itu tidak pernah ternilai oleh materi. Kau yang harus memaknainya.

PRIA                  : Makna? Harus menjadi rendah hati maksudmu?

WANITA           : (HANYA MENGANGGUK DAN TETAP DENGAN AKTIVITAS MENJAHITNYA)

PRIA                  : Rendah hati itu kan kita sendiri yang melakukannya. Kita yang tahu dan paham apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan. Kalau orang lain yang melihat kita, malah seperti orang bego. Mau saja dibodohi.

WANITA           : (MENGHENTIKAN AKTIVITASNYA DAN MENGELUS KEPALA PRIA) maka, gunakanlah pikiran dan hatimu. Gunakan keduanya. Awas.. aku mau menyiapkan makanan.

LAMPU PADAM.

PRIA                  : Istriku! Istriku! Kau dimana?

WANITA           : Kenapa? (KELUAR DARI BELAKANG PONDOK)

PRIA                  : Aku sekarang bekerja di kerajaan.

WANITA           : Bagaimana bisa?

PRIA                  : Tiba – tiba saja ada seorang petinggi kerajaan datang dan menawarkanku bekerja di kerajaan. Bilangnya, kalau ini itu pekerjaan mudah. Hanya mengkuti apa yang dia perintahkan.

WANITA           : Kau tidak bertanya untuk apa?

PRIA                  : Bilangnya, ada persoalan di kerajaan untuk menurunkan seseorang karena orang tersebut sudah banyak melakukan kesalahan. Sepertinya sih … ah sudahlah! Tidak penting. Bukan urusanku.

WANITA           : Kau yakin?

PRIA                  : Tidak ada apa – apa. Aku hanya disuruh untuk melakukan yang dia perintahkan. Dia kelihatan seperti orang baik.

WANITA           : Aku rasa tidak.

PRIA                  : Apalagi yang kau khawatirkan? Hidup kita sudah mulai terjamin nanti. Kau tidak usah cemas.

WANITA           : Sepertinya mereka punya maksud jahat.

PRIA                  : Pikiranmu itu terlalu mengada – ada.

WANITA           : Bagaimana tidak? Kau itu hanya buruh ketik di kantor upeti. Kemampuanmu pun …

PRIA                  : Berani kau merendahkanku? Bukannya mendukung tapi kau malah melecehkanku? Istri macam apa? Sudahlah! Aku sendiri yang menentukan. Nanti kau juga yang dapat enaknya.

LAMPU PADAM.

LAMPU MENYOROT KE SINGGASANA BERWARNA MERAH BERLAPIS BELUDRU. OBOR – OBOR YANG BERDERET DI SAMPING SINGGASANA TERUS BERKOBAR. TERDENGAR NYANYIAN – NYANYIAN MERDU YANG MENGALUN MENGHANTARKAN SEORANG WANITA MASUK DAN MENGHAMPIRI SINGGASANA.

WANITA             : Ini semua yang sudah merubah suamiku. Harus berapa kali kukatakan kalau dia hanya dimanfaatkan. Suara hatiku benar. Hati ini semakin menjerit saat kupaksa diriku untuk menghantarkan dia ke singgasana ini (HENING DAN TERDENGAR SUARA ANGIN. WANITA ITU MENGIKUTI ARAH ANGIN ITU). Apakah ini semua yang dia inginkan? Mengapa? Apakah kehidupan kita dulu kurang memuaskan nafsu duniawimu? Aku sebagai pendamping dirimu akan selalu mendukungmu. Kemana kakimu berpijak, aku akan tetap menemanimu. Sayang.. bisakah kau kembali untukku? Betapa rindunya aku membelai rambutmu. Menjadi sandaranmu disaat kau mulai menangis. Berusaha memegang pergelangan tanganmu disaat aku mulai takut untuk jauh darimu. (WANITA ITU DUDUK DI SINGGASANA) Tapi kau bilang aku harus mulai menjauh darimu? Apa salahku? Aku selalu ada di saat kamu terjatuh dan menyeka air matamu. Mengapa? Mungkin sekarang aku akan mencoba untuk menarik kembali dirimu. Harus kulakukan semua cara untuk bisa mendapatkanmu kembali.

TERDENGAR SUARA YANG BERGEMURUH. SUARA TAWA SEORANG LAKI – LAKI MENJADI PERTANDA BAHWA SESEORANG YANG BERKUASA MEMASUKI PANGGUNG.

PRIA                    : Menyenangkan sekali hidup ini. (WANITA YANG SEDANG DUDUK LANGSUNG BERDIRI DAN MENJAUH DARI SINGGASANA) Sudah lama sekali aku menanti hal yang dianggap semua orang mustahil. Jadi orang itu harus cerdas. Benar sekali yang dikatakan petinggi kerajaan itu. Eh… sedang apa kamu di sini?

WANITA             : Aku hanya sedang khawatir saja. (MENYEKA AIR MATANYA)

PRIA                    : Kau menangis? Ada apa? (DUDUK DI SINGGASANA) nampaknya ada pikiran yang mengahantuimu? Memangnya semua yang sudah kuberikan kepadamu itu masih kurang? Emas yang kuberi itu kurang?

WANITA             : Bukan itu.

PRIA                    : Kau ingin belanja dan uangnya kurang?

WANITA             : Bukan itu.

PRIA                    : Kau ingin pakaian mahal?

WANITA             : Tidak.

PRIA                    : Kau ingin jalan – jalan?

WANITA             : Tidak.

PRIA                    : Kau ingin benda mewah?

WANITA             : Tidak.

PRIA                    : (PRIA BANGKIT DARI SINGGASANANYA) Kau itu maunya apa? Ini bukan itu tidak. Memangnya kata yang kau pelajari itu Cuma bukan dan tidak. Dasar! Wanita sulit dimengerti. bukan kau saja. Semua! SEMUA WANITA. Banyak permintaan yang tidak masuk diakal.

WANITA             : Apa maksudmu?

PRIA                    : WANITA! Kau tidak dengar? Sekarang kau mulai tuli?

WANITA             : Ya wanita! Kau bermain dengan wanita mana lagi? Kurang puas dengan anak gadis yang kau cicipi setiap malamnya? Orang tua mereka menangis dan mengadu kepadaku. Mereka semua terpuruk dan kau seenaknya saja mengambil keperawanan anak gadis mereka? Aku malu! Aku malu! Dimana otakmu? (PRIA ITU DUDUK SAMBIL TERSENYUM) Aku masih di sini. Aku tidak pernah meninggalkanmu dan terus mendampingimu mulai dari awal. Sampai nanti pun akan tetap seperti itu. Tapi kau masih tidak meyakiniku?

PRIA                    : Kau sudah tidak ada gunanya. Kau itu hanya alat. Tidak lebih. Persoalan aku sudah melakukan hal yang kau anggap memalukan itu, itu bukan urusanku. Aku yang berkuasa di sini. Ini adalah wilayah kekuasaanku. Apapun yang ada di sini, semuanya adalah milikku. Orang menjijikan sepertimu itu cuma menumpang di daerah ke kuasaanku. Paham? Kau jangan seenaknya bilang (MENGIKUTI GAYA BERBICARA WANITA)  “aku tidak pernah meninggalkanmu dan terus mendampingimu mulai dari awal”. memangnya aku peduli? Kau sama seperti wanita lainnya. Selalu berkicau soal cinta dan ketulusan. Kalau kau hidup dibawah bayang cinta, mati saja. Hidup ini penuh dengan taktik dan strategi. Logika yang harus kau pakai. Saling menjatuhkan itu sudah seharusnya. Mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalau otakmu selalu kau pakai, harta dan tahta pun sudah pasti akan kau dapat. Tuhan menciptakan otak itu berpikir. Dilapisi tempurung kepala pun, agar otak itu tidak hancur dan kau masih tetap bisa berpikir.

WANITA             : Orang gila.

PRIA                    : Ya! Aku sudah gila. Gila untuk bertahan hidup! Kehidupan itu yang utama. P R I O R I T A S! Senangkanlah dirimu selagi kamu hidup. Jadi orang itu yang cerdas. Hidup itu Cuma sebentar. Manfaatkanlah. Cari kesenangan sebanyak – banyaknya.

WANITA             : Kau tidak pernah merasa kekurangan? (MENDEKATI PRIA ITU SEMBARI MENGEPALKAN TANGANNYA).

PRIA                    : Apa yang harus khawatirkan? Kekurangan soal apa? Harta? Aku sudah punya. Melimpah. Sampai tujuh turunan tujuh tanjakan pun tidak akan habis. Tahta. Aku punya uang, tahta pun bisa kudapatkan. (MENUNJUKKAN KANTONG UANG DAN TERDENGAR BUNYI KOIN – KOIN BERADU). Wanita? Mereka semua bisa kudapatkan dengan mudah. Tinggal ambil, bayar, kasihkan ke orang tuanya. Istri? Kau kan sudah jadi milikku. (MENDEKATI WANITA DAN MENGELUS PIPI WANITA ITU, TAPI LANGSUNG DITAMPIK)

WANITA             : Kalau tahu aku akan jadi istrimu, wahai bedebah busuk, aku tidak akan sudi. Pernah membelai rambutmu pun aku merasa itu adalah dosa terbesar yang sudah aku buat. Kurasa Tuhan sudah tahu kapan waktunya aku bertobat.

PRIA                    : Itu urusanmu dengan Tuhan. Tapi kau tahu, Tuhan sendiri memerintahkan istri untuk taat kepada suaminya. Bukan membangkang. Tobatmu itu tidak akan pernah diterima Tuhan! Lanjutkanlah keasyikanmu dengan kekuranganmu. Aku sudah pasti kekal di mata Tuhan.

WANITA             : Persetan dengan apa yang kau ucapkan dasar lelaki busuk! (MENJERIT)

PRIA                    : Sibukanlah dirimu dengan teriakanmu itu. Aku tidak peduli. Aku tidak akan ikut campur. Itu urusanmu. Oh, aku ada janji dengan si pirang manis. Kasihan dia sudah menanti di kamar. Sepertinya dia menggunakan parfum yang kemarin kubelikan. Soalnya wangi parfum itu sudah tercium sampai ke sini. (MENINGGALKAN RUANGAN).

            WANITA ITU MENJERIT SEKERAS – KERASNYA. SEKUMPULAN ORANG BERBAJU BESAR MEMBAWA KURSI PANJANG DAN MULAI MENGELILINGI WANITA TERSEBUT. WANITA ITU DUDUK DI KURSI YANG DIBAWA SEKUMPULAN ORANG TERSEBUT DAN MULAI BERSENANDUNG KECIL. SEKUMPULAN ORANG ITU MEMBERIKAN GERAKAN YANG SANGAT AGRESIF DI SAAT SENANDUNG WANITA ITU MULAI KENCANG SEHINGGA MENJERIT TAK KARUAN DAN KEMBALI MELEMBUT KETIKA SENANDUNG WANITA ITU MELEMAH. TATAPANNYA KOSONG. SEKUMPULAN ORANG ITU MULAI JATUH PERLAHAN SAAT WANITA ITU PERLAHAN BANGKIT DARI DUDUKNYA. WANITA ITU MENINGGALKAN PANGGUNG.

            SEKUMPULAN ORANG YANG TERJATUH TADI MEMBUAT GERAKAN YANG TIDAK KARUAN. BEBERAPA DIANTARA MEREKA ADA YANG MENGGUNAKAN TOPENG, MEMBAWA PAYUNG, KEGIRANGAN SAAT MENGGUNAKAN PERHIASAN DAN MENGHAMBURKAN KOIN – KOIN. MASUKLAH PRIA DENGAN PAKAIAN YANG BERANTAKAN DAN HAMPIR TANPA BUSANA. PRIA TERSEBUT AWALNYA IKUT MENARI TAPI PERLAHAN – LAHAN DIA KEHILANGAN KESEIMBANGAN DAN JATUH. BADANNYA MULAI MUNCUL PENYAKIT KULIT. DARAH MENGALIR DARI TUBUHNYA. SEKELOMPOK ORANG ITU TETAP MELANJUTKAN TARIANNYA SEMBARI MEMPORAK – PORANDAKAN SINGGASANA DAN MEMATIKAN OBOR – OBOR YANG MENYALA. SAMPAI AKHIRNYA TARIAN ITU DIHENTIKAN OLEH JERITAN PRIA TERSEBUT.

PRIA                    : Istrikuuuuu………… Tolong aku!

WANITA             : (MASUK DENGAN WAJAH DINGIN) Apa lagi yang kau inginkan dari alatmu ini wahai penguasa?

PRIA                    : Tolong aku istriku.

WANITA             : Pertolongan seperti apa yang kau inginkan?

PRIA                    : Mengapa kau seperti ini?

WANITA             : Kau yang sudah membuatku seperti ini. (DIAM TAK BERKUTIK)

PRIA                    : Picik sekali kau wanita jalang! Kau menaruh dendam kepadaku? Ini balasanmu kepadaku? Dasar wanita tidak tahu diuntung. Pergilah! Jangan pernah kembali lagi. Tanpamu pun aku sanggup hidup sendiri. Hidup itu harus cerdas. Pergi! Kau tidak berguna!

WANITA             : Baiklah (MASIH DENGAN TATAPAN DINGIN, LALU PERGI)

PRIA                    : Dasar wanita! Semua tidak ada yang mau kalau ada tidak enaknya. Persetan dengan cinta dan ketulusan. Mana? Kau berkoar tentang cinta dan ketulusan tapi yang aku lihat tadi seperti raga tak berjiwa. (MENAHAN SAKITNYA) Kemana dia? Semudah itu dia pergi? (BANGKIT DAN MELIHAT KE ARAH DIA PERGI) Tidakkah kau ingin membelai rambutku lagi? Biarkan aku bersandar di pangkuanmu lagi. Saat ini air mataku sudah tidak bisa terbendung. Apa yang harus kutebus untukmu? Apa?

            WANITA DATANG MEMBAWA BASKOM YANG BESAR BERISI AIR DAN HANDUK. DIA MENGANGKAT PRIA ITU KE ATAS KURSI DAN MENIDURKAN KEPALANYA DI PANGKUANNYA. SAMBIL BERSENANDUNG DIA MEMBERSIHKAN BADAN SUAMINYA YANG PENUH LUKA.

WANITA             : Ini yang harus kau tebus, sayang. Untuk semua yang telah kau lakukan. Hatimu itu sudah dibentengi oleh pikiranmu sendiri akan duniawi. Dunia itu seperti yang kau ucapkan. Hanya sementara. Bukan untuk kesenangan tapi untuk mencari ladang ibadah di hadapan Tuhan. Itulah yang sesungguhnya. Kau sudah berani menentang Tuhan. Inikah yang kau maksud kekal di mata Tuhan? Aku hanya seorang istri. Memberikan peringatan di saat suamiku berada di jalan yang salah. Tapi, tindakanmu, kaulah yang menentukan. Aku juga tidak tega melihatmu menderita. Tersakiti karena ulahmu sendiri. (MENITIKKAN AIR MATA SEMBARI TETAP MEBERSIHKAN LUKA SUAMINYA). Kau tahu kekurangan apa yang aku maksud? Suara – suara mungil yang mungkin bisa menjadi pengingat terakhirmu disaat kau melakukan kesalahan. Aku hanya ingin yang terbaik. Itu saja. Harta dan tahta itu tidak penting. Mati dalam kedamaian dan bersama orang yang kucintai pun sudah membukakan mataku akan surga yang begitu indah.

PRIA                    : Maafkan aku.

WANITA             : Sampai mati pun, maafku selalu menyertaimu. Tidak ada sama sekali dendam yang terlintas dalam benakku.

PRIA                    : Ini semua salahku.

WANITA             : Ini salahku juga. Tidak bisa mengingatkanmu. Bersimpuhlah dihadapan Tuhan. Biarkan maafmu kusampaikan kepada orang – orang yang kau sakiti. Karena aku tahu, mereka akan mencercamu dan menghinamu. Memohon maaflah kepada Tuhan. Jalan Tuhan lebih cerah.

PRIA                    : Terima kasih Tuhan kau berikan aku istri sepertinya. Kesalahanku tidak bisa terbayar oleh materi. Dosaku pun sudah melebihi jutaan bintang dilangit. Kesombonganku pun melebihi luas lautan di bumi. Terima kasih kau memberikan matahari ini untukku dimana sinarnya bisa menutupi bintang itu dan membantu menguapkan air di lautan walau hanya sebentar. Setidaknya dia berarti untuk menghilangkan sedikit saja dosa-dosaku Tuhan. Ampuni aku. Makhluk sempurna ciptaanmu namun tak sesempurna Engkau. Bukakanlah jalanku… (MENGGENGGAM TANGAN ISTRINYA)

WANITA             : Begitu lebih baik. Kau sudah berusaha untuk meminta. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tapi Tuhan tidak akan pernah datang dan pergi. Dia selalu ada. Selalu….

            WANITA ITU MEREBAHKAN KEPALA SUAMINYA DI KURSI. WANITA ITU MENGHAMPIRI SINGGASANA BELUDRU YANG TERJATUH. DIA MENGHANCURKAN SINGGASANA BELUDRU ITU.

 

LAYAR MENUTUP.  


Naskah ini pernah dibuat untuk Teater 193

Asma Oetari

KITA

 

(FADE IN) TAMPAK SEPASANG SUAMI ISTRI SEDANG DUDUK DI AMBEN. SANG ISTRI SEDANG MEMOTONG KANGKUNG SEDANGKAN SANG SUAMI SEDANG ASYIK TERTIDUR PULAS DI AMBEN. TERDENGAR SUARA RADIO, LALU SANG ISTRI MEMPERBESAR VOLUME RADIO TERSEBUT.

RADIO         : berdasarkan hasil pemilu 1997, Kanjeng Gusti kembali menjabat sebagai Presiden. Setelah banyak sekali konflik besar dan prestasi yang melanda negeri ini selama beliau menjabat sebagai presiden. Namun, apakah konflik itu akan bertambah dan memuncak? dan apakah prestasi akan membanjiri negeri ini untuk kesekian kalinya? Jangan kemana-mana tetaplah bersama kami, 12.1 FM.

ARIYANTI   : Menang lagi

TANDJUNG : Maksudmu? (SALING TATAP)

ARIYANTI   : Banyak sekali ya, yang mendukung Kanjeng mble’eh itu. Tapi, Aku tahu itu hanya  scenario. Scenario yang direkayasa supaya dia memanfaatkan negeri ini, dengar ya, walaupun aku Cuma tamatan SMA, aku paham betul tentang scenario begitu. Kan aku dulu pernah ikutan sandiwara di sekolah.

TANDJUNG : jangan menuduh orang sembarangan. (MEMBENARKAN SARUNGNYA)

ARIYANTI   : sudah jelas, mereka semua memanfaatkan negeri ini. kita lihat saja nanti. Pasti semua akan akan ketahuan belangnya. Pemimpin sarap  (BERDIRI, KEMUDIAN MEMBERESKAN MAKANAN YANG AKAN DIJUAL DAN MENARUHNYA DI WARUNG)

TANDJUNG : Huss! Bu, Jangan ikut-ikutan seperti para aktivis yang kontra dengan beliau. Dengar ya bu, Mereka itu orang-orang yang tidak tahu malu. Masa ibu tidak merasa, Kanjeng Gusti itu sudah memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Jangan seenaknya saja bilang Kanjeng Gusti orang sarap. Ibu tidak tahu berterima kasih. Betapa sulitnya Kanjeng Gusti membangun ini semua, dengan bersusah payah pula.

ARIYANTI   : Bapak kok jadi belain Kanjeng mble’eh. Emangnya bapak tahu apa?

TANDJUNG : Ya tahu lah! Memangnya ibu tidak sadar kalau dia baik?

ARIYANTI   : tidak. Mana buktinya?

TANDJUNG : Buktinya? Nih ya, sebelum pemilu, semua warga di sini disuruh ngumpul di Balai Desa, disuruh pak Kades. Pak kades di suruh sama anggota partai Sentosa. Partai punyanya Kanjeng Gusti itu loh. Nah, Kita semua dikasih duit. Baikkan? 

ARIYANTI   : Disogok itu namanya!

TANDJUNG : Ya bukanlah. Masa nyogok pake lewat Pak Kades. Mendingan, langsung aja ke warganya. Ribet bener!

ARIYANTI   : Terserah bapak.

(OS) DUA ORANG WANITA YANG SEDANG BERTENGKAR

DARSIH       : Harusnya sampean bangga dong Kanjeng menang lagi, ya toh?

SURIN          : Cih… ogah! Kau saja sana membanggakan dia!

DARSIH       : wah, Gak tahu malu sampean ya. Yang ngasih sampean beasiswa buat kuliah itu, Kanjeng Gusti. masa sampeam sendiri malah menentang dia.

SURIN          : loh, kok kamu sewot gitu sih? Kalau memang dia salah, masa mau aku belain?

ARIYANTI DAN TANDJUNG SALING TATAP DAN KEMUDIAN MELIHAT KE ARAH SUMBER SUARA BERASAL. MASUK DUA MAHASISWI YANG MASIH MELANJUTKAN PERTENTANGANNYA.

DARSIH       : wah!! bener-bener kamu ya. Kualat kamu.

ARIYANTI   : aduuhh.. ada apa ini? masih pagi sudah ribut-ribut!

SURIN          : nggak, bu. Ini temen saya, Darsih, masa ngotot banget belain Kanjeng Gusti. Udah tahu Kanjeng itu salah. Korupsinya juga gede banget. Masih aja di belain.

DARSIH       : kata siapa korupsi? Termakan infotainment kamu!

TANDJUNG : sstt, sudah – sudah!

DARSIH       : habisnya, Surin gak tahu terima kasih banget sih. Nih, ya Surin, negara kita itu berkembang sangat pesat dari mulai cara bercocok tanam kita yang berubah dari cara konvensional ke cara modern. Harusnya kau patut bangga. Kita mencapai puncak kejayaan dalam bidang pertanian. Kalau zaman dulu bilang, Revolusi Hijau. Nah, ada lagi… negara kita itu pendidikannya juga bagus, beasiswa ngucur terus. Terus kan negara kita juga sudah mampu membuat mobil sendiri, mobil timor. Ya toh? Terus nih ya…

SURIN          : dasar mahasiswi biologi. Terlalu teoritis! (MASUK PRIA AKTIVIS. DIA MEMESAN) Kau tahu Revolusi hijau itu sudah tidak dipakai  lagi. Efek yang ditimbulkan revolusi hijau sungguh sangat merugikan masyarakat karena ekologi dan kelestarian lingkungan tidak diperhatikan, karena pemerintah hanya mementingkan hasil produksi pangan. Selain dampak lingkungan, revolusi hijau juga menyebabkan kesenjangan ekonomi antara petani kaya dan petani yang kurang mampu karena harus membeli pestisida, pupuk buatan dan bibit unggul untuk bercocok tanam. Pemerintah ngawur begitu! Dan juga, Mobil apanya? Kau tahu, mobil kita itu semua mesinnya dari luar negeri sedangkan kita cuma merekonstruksi ulang. Apa yang patut dibanggakan?

DARSIH       :dasar. Mahasiswi hukum!

DJOKO         : itu salah satu permasalahannya. (DJOKO MENGHAMPIRI KEDUA MAHASISWI TERSEBUT) sebenarnya, kami para aktivis sedang mencoba untuk mencari bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Kanjeng Gusti bersalah.

ARIYANTI   : jadi benar kalau Kanjeng mble’eh itu bersalah?

TANDJUNG : ah, tidak mungkin

DJOKO         : Seluruh teman aktivisku  yang lain juga sedang mencari kebenarannya. Bisa kupastikan bukti yang dikumpulkan ini cukup kuat dan bisa dijadikan pegangan kalau Kanjeng Gusti itu memang bersalah. Kalian tahu, dia itu raja KKN. Sebenarnya, banyak di luar sana yang sudah jengah dan tidak betah dengan kondisi ini. Mereka tidak ingin menjadi boneka lagi.

TANDJUNG : kalau buktinya sudah kekumpul? (MASUK WARTAWATI)

DJOKO         : Kami akan melakukan demo besar-besaran untuk menurunkan dia. Semua infotainment dan surat kabar juga sudah memberitakannya.

ARES            : berita apa?

DJOKO         : wah, wartawati ya? Ini, kami para aktivis akan menurunkan Kanjeng kalau bukti-bukti kuat sudah terkumpul.

SURIN          : bagus kalau begitu!

DARSIH       : wes punya teman ternyata. Semakin besar saja kepalamu itu. Cih..

ARES            : memang kedengarannya bagus. Tapi apakah tidak akan berdampak buruk nantinya?

ARIYANTI   : Maksudnya?

ARES            : tidak bisa sembarangan menurunkan pemerintah begitu saja. Perlu waktu untuk melakukan itu. Belum lagi, dimungkinkan akan banyak memakan korban. Bisa terlihat. Kami, pers, tidak bisa berbuat banyak pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti. kami dikekang dalam memberitakan kepemerintahan. Mungkin, kalau pers dibebaskan, topeng pemerintah akan terbongkar. Memang, pada masa orde baru Indonesia memang mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, namun tidak merata. Hutang Indonesia tak terhitung banyaknya. Tapi benar yang dikatakan tadi. KKN merajalela

SURIN          : tuh, dengar!  (MENEPUK PUNDAK DARSIH)

DARSIH       : sepertinya, itu hanya akal-akalan kalian saja. Kalian ndak suka dengan pemerintahan Kanjeng karena Kanjeng begitu bisa mengatur pemerintahan kan? Iyo kan

SURIN          : ngawur! Bela saja terus tokoh idolamu itu! Penghianat ulung. Raja KKN, huh  Mengaku demokrasi, tapi memakai monarki. Payah memangnya kita negara Inggris apa?

DARSIH       : Kurang ajar betul bicaramu. Hei! Kau tidak bisa seperti ini kalau tanpa dia. Semua rakyat harusnya tunduk padanya dan bersyukur kalau dia dadi presiden lagi! (MEMALINGKAN WAJAH)

 SURIN         : Memangnya dia raja apa? Raja tikus curut? Kau saja yang tunduk kepada dia

DARSIH       : sampean iki ya! Orang – orang terlalu berfikiran negative. memangnya apa salahnya mengikuti aturan pemerintah sih?

ARIYANTI   : Neng, pemerintahannya udah gak bener?

TANDJUNG : gak bener dari mana? Orang udah sebegitu baiknya kok. Sampe ngasih duit segala.

ARIYANTI   : bicaramu ngaco! Ngocomang kamana karep!

TANDJUNG : kamu yang ngocomang kamana karep!

DJOKO         : sudah.. sudah.. sudah.. (MELERAI)

ARES            : semuanya, berhenti!

SURIN          : heh, Darsih. Kau dikasih apa sih sampe ngebela segitunya?

DARSIH       : memangnya kenapa? Harusnya aku yang nanya karo sampean! Sampean wes diapain sama infotainment sih? kalau sampean gak suka, lebih baik  pindah saja sampean menjadi Warga Negara Asing. Bakar saja  label WNI-mu. Memangnya sampean ini tinggal dimana hah? Hutan? Ngejelek-jelek rumah sendiri

SURIN          : Kau ini pintar atau memang benar-benar oon sih? (MENDEKATI DARSIH)

DARSIH       : apa kau bilang? (MENDEKATI SURIN. MEREKA BERANTEM SATU SAMA LAIN. ARIYANTI, TANDJUNG, ARES, DAN DJOKO BERUSAHA MEMISAHKAN MEREKA. SAMPAI AKHIRNYA DARSIH MENAMPAR SURIN) Plaaakk!! (SEMUA HENING)

SURIN          : Lancang! Aku tidak mau berteman lagi denganmu (NAFASNYA TERSENGGAL-SENGGAL. KEMUDIAN PERGI)

DARSIH       : Yo wes! (PERGI)

ARIYANTI   : jelema lieur. Ngagawekeun wae (MASUK KE RUMAH)

TANDJUNG : (MEMBERESKAN BARANG-BARANG YANG BERJATUHAN) kalau mau berantem tuh jangan di sini. Kajeun tutup wae kitu. Mahasiswa jaman sekarang mah sudah tercemar. Pergaulanna berantem wae. Jadi takut anak saya nantinya kayak gitu. Hiiii … (KELUAR)

DJOKO         : beginilah.. akibat kesalahan seseorang, bisa menjadi bencana yang begitu hebat. Luar biasa! Ini baru sebagian kecil. Belum di luar sana. Lebih parah dari pada ini. (MENIRUKAN GAYA PIDATO) kita sebagai rakyat harus bangga dengan negara sendiri. Pemerintah itu hanya sebagai media. Karena, kita of the people, by the people, for the people. Sekarang terbalik of the government, by the government, for the government jadi apa lagi yang harus dibanggakan? Memang negara ini dulu menjadi negara terkuat di dunia dengan armada laut dan udaranya. Sekarang mana? Hanya cerita. Apa yang patut dibanggakan? Korupsi? Kolusi? Nepotisme? Inflasi yang terus meningkat? Hutang yang kian menumpuk? Bah.. demi badai dan topan, tak mau ku akui  kalau sekarang itu negaraku! Sudi sekali aku menerima semua kenyataan itu. Tapi mau bagimana lagi? Suka gak suka ya makan saja.  Kasihan Negeri ini.. Seperti Intan yang termakan api. (TERTAWA SINIS)

ARES            : Sudahlah. Biarkan saja mengalir apa adanya. Memang masa ini merupakan masa dimana segala sesuatunya harus sesuai dengan kehendak pengusa, bukan kehendak rakyat. Rakyat dipaksa untuk bungkam dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah tanpa dapat melakukan kritik untuk kebijakan yang lebih baik. Kita menentang, kita mati dan mungkin akan selalu berakhir seperti ini…. berakhir dengan Omong Kosong. Percayalah, yang baik akan menang

(FADE OUT)


5 April 2013

Karya : Asma Oetari


JALAN YANG LAIN by LT

SETTING, SORE HARI DI SEBUAH RUANGAN TEMPAT PERTEMUAN, YANG MENJADI BASECAMP DARI KEGIATAN PARA AKTIVIS.

HENDRA

Sepertinya, rencana kita akan gagal.

DINI

Gagal, apa maksudmu?

HENDRA

Kita tidak mungkin berhasil lagi dengan semua rencana pergerakan ini. Sudah saatnya kita mengakhiri semuanya, kita harus segera menyingkir, karena keadaan sudah semakin kritis.  Sudah saatnya, kita harus tinggalkan tempat ini dan mulai dengan kehidupan baru.

DINI

Kita?

HENDRA

Ya, kita! Kau dan aku.

DINI

Ah, pergilah kau sendiri dengan rencanamu itu. Aku akan tetap di sini bersama yang lain. Kalau kau takut, pergilah! Pergerakan ini tak butuh pengecut seperti mu.

HENDRA

Apalagi yang harus diperjuangkan dari pergerakan ini? Kita sudah berada dalam posisi kritisdan hanya bisa terus menunggu, sementara pergerakan ini hanya bisa melawan dengan dengan demo dan orasi.Sedangkan musuh berkeliaran dengan moncong senjatanya,ini sungguh tidaklah adil.

DINI

Tapi memang itukan tujuan  pergerakan ini? Melawan setiap ketidakadilan yang begitu lama merajalela. Ketidakadilan dari rezim yang terus bercokol di negeri ini. Kalau kau sudah merasa lelah,  pergilah dan tak perlu pula mengajakku.

HENDRA

Tapi kau mencintaiku.

DINI

Apa?

HENDRA

Aku mencintaimu.

DINI

Aku mencintaimu?

HENDRA

Iya.. ak..

NAMUN TIBA-TIBA MASUK RETNO DENGAN TERESA-GESA.

Retno

(TERENGAH-ENGAH) Mana Anisa?

HENDRA

Hei, tak bisakah kau masuk dengan permisi.

Retno

Ini bukan saatnya untuk basa-basi. Kami berempat dikejar para pria bersenjata.

DINI

Hah? Siapa, aparat?

RETNO

Entahlah, tapi yang jelas mereka mengenal kita. Kami berempat berusaha lari saat mereka menghadang. Aku sempat bersembunyi saat kami terpisah, tadinya ku kira Nisa dan yang lain sudah ada sampai di sini.

HENDRA

Sebaiknya kita memang harus segera pergi dari tempat ini. Keadaan sudah tak lagi kondusif.

DINI

Lalu keadaan seperti apa yang kondusif menurutmu itu? Hanya duduk santai dan ongkang-ongkang kaki, ini pergerakan Bung, bukan sedang vakansi.

MASUK YUDI DAN ANISA YANG TERLUKA AKIBAT TEMBAKAN, DIBANTU FARIDA.

YUDI

Din.. Dra.. cepat tolong kami!

Retno

Astaga, kenapa Annisa?

YUDI

Dia tertembak.

 

HENDRA

Haris Mana?

 

YUDI

(MENGHAMPIRI MEJA MAKAN DAN MEMINUM AIR MINERAL YANG BERADA DALAM KARDUS)Jadi dia belum sampai? Sepertinya dia sudah  tertangkap (PANIK) Saat bertemu dengan mereka, kita berempat terpisah, aku tidak tahu bagaimana persisnya dan kurasa, mereka tahu kita sudah mendapatkan bukti-buktinya.(TERDENGAR ANNISA MERINTIH KESAKITAN)

 

ANNISA

Aduh... ! (RETNO MEMBERSIHKAN DARAH YANG MENGUCUR DI KAKI ANNISA DIBANTU FARIDA)

 

RETNO

bertahanlah, Nis. Bagaimana ini?

Bawa ke rumah sakit. Sudah tidak ada waktu lagi. Bisa semakin parah nantinya.

 

HENDRA

Itu tidak mungkin. Rumah Sakit pasti mendapatkan penjagaan ketat. Bunuh diri namanya!

 

RETNO

Kalau begitu, bawa saja ke rumahnya.

FARIDA

Tapi kamu perlu perawatan

DINI

Maaf, Siapa anda?

FARIDA

Oh,maaf saya belum memperkenalkan diri. Saya farida. Wartawan. Saya yang akan membantu kalian dalam mempublikasiakan bukti-bukti itu. Saya sudah menunggu annisa dan kawan-kawan dari tadi. Tapi karena mereka tak kunjung datang, akhirnya saya berinisiatif untuk datang. Tapi saat saya bertemu, saya melihat annisa tertembak lalu saya membantunya

DINI

Oh, baiklah. Yud, Bawa Annisa ke rumahmu. Bertahan di sini pun percuma. Tidak ada yang bisa mengobatinya.

 

YUDI

Bagaimana Nis?

ANNISA

Ya, terserahlah

YUDI

Baiklah. Ini berkas-berkas yang tadi aku bawa (MENYIMPANNYA DI ATAS MEJA). Kami akan kembali kalau keadaan sudah kondusif

(MEMBOPONG ANNISA. KELUAR)

 

HENDRA

Kau lihat sendiri? (MENATAP DINI) apakah kau akan masih bertahan dalam kondisi yang sudah tak terkendali seperti ini? Kau akan mati kalau kau masih tetap dengan prinsip kau itu.

 

RETNO

 Kau jangan menganggap enteng. Kita semua, para aktivis, semuanya ketakutan dalam kondisi kacau seperti ini

 

DINI

Cukup! Beraninya kau bilang seperti itu setelah apa yang kau jejali kepada kawan-kawan kau yang diluar sana tentang politik, hukum, dan sebagainya. Kau itu sama saja dengan pengecut!Kau sama saja sudah menipu masyarakat

 

HENDRA

Beraninya kau! aku tidak menipu mereka. Mereka sendiri yang bergerak! Jangan seenaknya saja bicara seperti itu(MEREMAS TANGANNYA)

 

DINI

Kenapa? Tidak suka? Mau marah? Silahkan. Aku tidak takut berhadapan dengan pengecut sepertimu.

 

RETNO

Jaga omonganmu, Din!

 

DINI

Kau membela dia? Berarti kau sama saja seperti dia!

 

HENDRA

Din, dengar! Aku hanya berusaha untuk menempatkan diri pada posisi yang seharusnya. Tidak mungkin kita tetap bertahan pada kondisi yang sangat berbahaya. Aku sudah capek.

 

DINI

Ah.. !Sekali pengecut tetaplah pengecut. Tidak usah kau pungkiri lagi.

 

HENDRA

Kurang ajar kau! Beraninya kau menganggapku pengecut! Aku sudah berjasa dalam pergerakan ini. banyak hal yang sudah kubuang demi mementingkan pergerakan yang bisanya hanya demo dan orasi. Aku jengah! Aaku sudah tidak tahan! Aku muak! Aku keluar dari pergerakan ini. Ayo Retno, Kita tinggalkan tempat tak berharga ini. (HENDRA KELUAR. RETNO MENGIKUTI DI BELAKANG HENDRA)

 

DINI

  Pergilah kalian jauh-jauh. Aku akan tetap disini.Perjuangan ini tidak membutuhkan orang-orang pengecut. Aku tidak takut pada apapun. Aku tidak takut pada siapapun. Meski beribu-ribu moncong senapan mengarah padaku. Aku tak takut kehilangan apapun. Walaupun nyawaku taruhannya (MELEMAS) Pergi! Pergi!

 

 

FARIDA

Ayolah! Perjuangan kita belum berakhir sampai kini. Kau jangan menyerah begitu!

 

DINI

Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua telah meninggalkanku

FARIDA

Masih banyak kawan-kawan di luar sana yang membutuhkan orang-orang seperti kita. (MENGAMBIL BERKAS-BERKAS BUKTI)Kita sebarluaskan bukti-bukti ini kepada seluruh masyarakat. Aku akan tetap bertahan, walaupun kondisinya sudah tidak terkontrol seperti ini. Kau mau ikut?

 

DINI

Aku ingin membantuku?

FARIDA

Iya

DINI

Baiklah, kalau kau memang ingin membantuku. Ini bukti-buktinya, semua yang dibutuhkan ada di sini.

FARIDA

Kalau begitu, lekaslah kita pergi menyebarluaskan bukti-bukti ini. sebelum para aparat menangkap kita.

DINI

Kau saja duluan. Aku akan menyusul. Aku ingin sendiri dulu.

 

FARIDA

Baiklah kalau begitu, sebaiknya kau berhati-hati. aku duluan. (PERGI)  

 

FAde Out:

The End

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi.  Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...