(FADE IN) TAMPAK SEPASANG SUAMI ISTRI SEDANG DUDUK DI
AMBEN. SANG ISTRI SEDANG MEMOTONG KANGKUNG SEDANGKAN SANG SUAMI SEDANG ASYIK
TERTIDUR PULAS DI AMBEN. TERDENGAR SUARA RADIO, LALU SANG ISTRI MEMPERBESAR
VOLUME RADIO TERSEBUT.
RADIO : berdasarkan hasil pemilu 1997,
Kanjeng Gusti kembali menjabat sebagai Presiden. Setelah banyak sekali konflik
besar dan prestasi yang melanda negeri ini selama beliau menjabat sebagai
presiden. Namun, apakah konflik itu akan bertambah dan memuncak? dan apakah
prestasi akan membanjiri negeri ini untuk kesekian kalinya? Jangan kemana-mana
tetaplah bersama kami, 12.1 FM.
ARIYANTI : Menang lagi
TANDJUNG : Maksudmu? (SALING TATAP)
ARIYANTI : Banyak sekali ya, yang mendukung Kanjeng mble’eh
itu. Tapi, Aku tahu itu hanya scenario.
Scenario yang direkayasa supaya dia memanfaatkan negeri ini, dengar ya,
walaupun aku Cuma tamatan SMA, aku paham betul tentang scenario begitu. Kan aku
dulu pernah ikutan sandiwara di sekolah.
TANDJUNG : jangan menuduh orang sembarangan.
(MEMBENARKAN SARUNGNYA)
ARIYANTI : sudah jelas, mereka semua memanfaatkan
negeri ini. kita lihat saja nanti. Pasti semua akan akan ketahuan belangnya.
Pemimpin sarap (BERDIRI, KEMUDIAN MEMBERESKAN
MAKANAN YANG AKAN DIJUAL DAN MENARUHNYA DI WARUNG)
TANDJUNG : Huss! Bu, Jangan ikut-ikutan seperti para
aktivis yang kontra dengan beliau. Dengar ya bu, Mereka itu orang-orang yang
tidak tahu malu. Masa ibu tidak merasa, Kanjeng Gusti itu sudah memberikan yang
terbaik untuk negeri ini. Jangan seenaknya saja bilang Kanjeng Gusti orang
sarap. Ibu tidak tahu berterima kasih. Betapa sulitnya Kanjeng Gusti membangun
ini semua, dengan bersusah payah pula.
ARIYANTI : Bapak kok jadi belain Kanjeng mble’eh.
Emangnya bapak tahu apa?
TANDJUNG : Ya tahu lah! Memangnya ibu tidak sadar kalau
dia baik?
ARIYANTI : tidak. Mana buktinya?
TANDJUNG : Buktinya? Nih ya, sebelum pemilu, semua warga
di sini disuruh ngumpul di Balai Desa, disuruh pak Kades. Pak kades di suruh
sama anggota partai Sentosa. Partai punyanya Kanjeng Gusti itu loh. Nah, Kita
semua dikasih duit. Baikkan?
ARIYANTI : Disogok itu namanya!
TANDJUNG : Ya bukanlah. Masa nyogok pake lewat Pak
Kades. Mendingan, langsung aja ke warganya. Ribet bener!
ARIYANTI : Terserah bapak.
(OS) DUA ORANG WANITA
YANG SEDANG BERTENGKAR
DARSIH : Harusnya sampean bangga dong Kanjeng
menang lagi, ya toh?
SURIN : Cih… ogah! Kau saja sana
membanggakan dia!
DARSIH : wah, Gak tahu malu sampean ya. Yang
ngasih sampean beasiswa buat kuliah itu, Kanjeng Gusti. masa sampeam sendiri
malah menentang dia.
SURIN : loh, kok kamu sewot gitu sih? Kalau
memang dia salah, masa mau aku belain?
ARIYANTI DAN TANDJUNG SALING TATAP DAN KEMUDIAN
MELIHAT KE ARAH SUMBER SUARA BERASAL. MASUK DUA MAHASISWI YANG MASIH MELANJUTKAN
PERTENTANGANNYA.
DARSIH : wah!! bener-bener kamu ya. Kualat kamu.
ARIYANTI : aduuhh.. ada apa ini? masih pagi sudah
ribut-ribut!
SURIN : nggak, bu. Ini temen saya, Darsih,
masa ngotot banget belain Kanjeng Gusti. Udah tahu Kanjeng itu salah. Korupsinya
juga gede banget. Masih aja di belain.
DARSIH : kata siapa korupsi? Termakan
infotainment kamu!
TANDJUNG : sstt, sudah – sudah!
DARSIH : habisnya, Surin gak tahu terima kasih
banget sih. Nih, ya Surin, negara kita itu berkembang sangat pesat dari mulai
cara bercocok tanam kita yang berubah dari cara konvensional ke cara modern.
Harusnya kau patut bangga. Kita mencapai puncak kejayaan dalam bidang
pertanian. Kalau zaman dulu bilang, Revolusi Hijau. Nah, ada lagi… negara kita
itu pendidikannya juga bagus, beasiswa ngucur terus. Terus kan negara kita juga
sudah mampu membuat mobil sendiri, mobil timor. Ya toh? Terus nih ya…
SURIN : dasar mahasiswi biologi. Terlalu
teoritis! (MASUK PRIA AKTIVIS. DIA MEMESAN) Kau tahu Revolusi hijau itu sudah
tidak dipakai lagi. Efek yang
ditimbulkan revolusi hijau sungguh sangat merugikan masyarakat karena ekologi
dan kelestarian lingkungan tidak diperhatikan, karena pemerintah hanya
mementingkan hasil produksi pangan. Selain dampak lingkungan, revolusi hijau
juga menyebabkan kesenjangan ekonomi antara petani kaya dan petani yang kurang
mampu karena harus membeli pestisida, pupuk buatan dan bibit unggul untuk
bercocok tanam. Pemerintah ngawur begitu! Dan juga,
Mobil apanya? Kau tahu, mobil kita itu semua mesinnya dari luar negeri
sedangkan kita cuma merekonstruksi ulang. Apa yang patut dibanggakan?
DARSIH :dasar. Mahasiswi hukum!
DJOKO : itu salah satu permasalahannya.
(DJOKO MENGHAMPIRI KEDUA MAHASISWI TERSEBUT) sebenarnya, kami para aktivis
sedang mencoba untuk mencari bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Kanjeng
Gusti bersalah.
ARIYANTI : jadi benar kalau Kanjeng mble’eh itu
bersalah?
TANDJUNG : ah, tidak mungkin
DJOKO : Seluruh teman aktivisku yang lain juga sedang mencari kebenarannya.
Bisa kupastikan bukti yang dikumpulkan ini cukup kuat dan bisa dijadikan
pegangan kalau Kanjeng Gusti itu memang bersalah. Kalian tahu, dia itu raja
KKN. Sebenarnya, banyak di luar sana yang sudah jengah dan tidak betah dengan
kondisi ini. Mereka tidak ingin menjadi boneka lagi.
TANDJUNG : kalau buktinya sudah kekumpul? (MASUK
WARTAWATI)
DJOKO : Kami akan melakukan demo
besar-besaran untuk menurunkan dia. Semua infotainment dan surat kabar juga
sudah memberitakannya.
ARES : berita apa?
DJOKO : wah, wartawati ya? Ini, kami para
aktivis akan menurunkan Kanjeng kalau bukti-bukti kuat sudah terkumpul.
SURIN : bagus kalau begitu!
DARSIH : wes punya teman ternyata. Semakin besar
saja kepalamu itu. Cih..
ARES : memang kedengarannya bagus. Tapi
apakah tidak akan berdampak buruk nantinya?
ARIYANTI : Maksudnya?
ARES : tidak bisa sembarangan menurunkan
pemerintah begitu saja. Perlu waktu untuk melakukan itu. Belum lagi,
dimungkinkan akan banyak memakan korban. Bisa terlihat. Kami, pers, tidak bisa
berbuat banyak pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti. kami dikekang dalam
memberitakan kepemerintahan. Mungkin, kalau pers dibebaskan, topeng pemerintah
akan terbongkar. Memang, pada masa orde baru
Indonesia memang mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, namun tidak
merata. Hutang Indonesia tak terhitung banyaknya. Tapi benar yang dikatakan
tadi. KKN merajalela
SURIN : tuh, dengar! (MENEPUK PUNDAK DARSIH)
DARSIH : sepertinya, itu hanya akal-akalan
kalian saja. Kalian ndak suka dengan pemerintahan Kanjeng karena Kanjeng begitu
bisa mengatur pemerintahan kan? Iyo kan
SURIN : ngawur! Bela saja terus tokoh
idolamu itu! Penghianat ulung. Raja KKN, huh
Mengaku demokrasi, tapi memakai monarki. Payah memangnya kita negara
Inggris apa?
DARSIH : Kurang ajar betul bicaramu. Hei! Kau
tidak bisa seperti ini kalau tanpa dia. Semua rakyat harusnya tunduk padanya
dan bersyukur kalau dia dadi presiden lagi! (MEMALINGKAN WAJAH)
SURIN :
Memangnya dia raja apa? Raja tikus curut? Kau saja yang tunduk kepada dia
DARSIH : sampean iki ya! Orang – orang terlalu
berfikiran negative. memangnya apa salahnya mengikuti aturan pemerintah sih?
ARIYANTI : Neng, pemerintahannya udah gak bener?
TANDJUNG : gak bener dari mana? Orang udah sebegitu
baiknya kok. Sampe ngasih duit segala.
ARIYANTI : bicaramu ngaco! Ngocomang kamana karep!
TANDJUNG : kamu yang ngocomang kamana karep!
DJOKO : sudah.. sudah.. sudah.. (MELERAI)
ARES : semuanya, berhenti!
SURIN : heh, Darsih. Kau dikasih apa sih
sampe ngebela segitunya?
DARSIH : memangnya kenapa? Harusnya aku yang
nanya karo sampean! Sampean wes diapain sama infotainment sih? kalau sampean
gak suka, lebih baik pindah saja sampean
menjadi Warga Negara Asing. Bakar saja
label WNI-mu. Memangnya sampean ini tinggal dimana hah? Hutan?
Ngejelek-jelek rumah sendiri
SURIN : Kau ini pintar atau memang
benar-benar oon sih? (MENDEKATI DARSIH)
DARSIH : apa kau bilang? (MENDEKATI SURIN.
MEREKA BERANTEM SATU SAMA LAIN. ARIYANTI, TANDJUNG, ARES, DAN DJOKO BERUSAHA
MEMISAHKAN MEREKA. SAMPAI AKHIRNYA DARSIH MENAMPAR SURIN) Plaaakk!! (SEMUA
HENING)
SURIN : Lancang! Aku tidak mau berteman lagi
denganmu (NAFASNYA TERSENGGAL-SENGGAL. KEMUDIAN PERGI)
DARSIH : Yo wes! (PERGI)
ARIYANTI : jelema lieur. Ngagawekeun wae (MASUK KE
RUMAH)
TANDJUNG : (MEMBERESKAN BARANG-BARANG YANG BERJATUHAN)
kalau mau berantem tuh jangan di sini. Kajeun tutup wae kitu. Mahasiswa jaman
sekarang mah sudah tercemar. Pergaulanna berantem wae. Jadi takut anak saya
nantinya kayak gitu. Hiiii … (KELUAR)
DJOKO : beginilah.. akibat kesalahan
seseorang, bisa menjadi bencana yang begitu hebat. Luar biasa! Ini baru
sebagian kecil. Belum di luar sana. Lebih parah dari pada ini. (MENIRUKAN GAYA
PIDATO) kita sebagai rakyat harus bangga dengan negara sendiri. Pemerintah itu
hanya sebagai media. Karena, kita of the people, by the people, for the people.
Sekarang terbalik of the government, by the government, for the government jadi
apa lagi yang harus dibanggakan? Memang negara ini dulu menjadi negara terkuat
di dunia dengan armada laut dan udaranya. Sekarang mana? Hanya cerita. Apa yang
patut dibanggakan? Korupsi? Kolusi? Nepotisme? Inflasi yang terus meningkat?
Hutang yang kian menumpuk? Bah.. demi badai dan topan, tak mau ku akui kalau sekarang itu negaraku! Sudi sekali aku
menerima semua kenyataan itu. Tapi mau bagimana lagi? Suka gak suka ya makan saja.
Kasihan Negeri ini.. Seperti Intan yang
termakan api. (TERTAWA SINIS)
ARES : Sudahlah. Biarkan saja mengalir
apa adanya. Memang masa ini merupakan masa dimana segala sesuatunya harus
sesuai dengan kehendak pengusa, bukan kehendak rakyat. Rakyat dipaksa untuk
bungkam dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah tanpa dapat
melakukan kritik untuk kebijakan yang lebih baik. Kita menentang, kita mati dan
mungkin
akan selalu berakhir seperti ini…. berakhir dengan Omong Kosong. Percayalah,
yang baik akan menang
(FADE OUT)
5 April 2013
Karya : Asma Oetari