"Apakah semua akan berbeda kalau dari awal ku memilih keputusan lain?"
Usiaku kini memasuki masa dimana orang-orang akan bertanya kapan menikah. Sampai detik ini tidak pernah kuhiraukan. Topik itu bukan topik yang menarik dan tidak akan pernah terjadi. Pikiranku terlalu sibuk dengan kehidupan keluargaku. Terlalu banyak yang harus kupikirkan dan tak kusisakan ruang untuk menikah.
Sering ibuku mendapatkan teguran dari tetangga sekitar dan keluarga besarku. Hingga ibu mendapatkan kata "Perawan Tua" yang semakin membuat ibuku gelisah. Pernah ibu mengutarakannya kepadaku dan kubilang kalau ibu tak usah khawatir. Itu bukan hal besar yang harus dipikirkan.
Banyak alasan mengapa aku tidak memilih untuk menikah. Pengalaman buruk dari sahabat-sahabatku, bacaan-bacaanku dan keuangan yang tidak memadai. Dari SMA dulu pun aku tidak memiliki "pacar" ataupun laki-laki yang terikat dalam hubungan. Hubungan itu hanya akan menambah masalah baru dan menyia-nyiakan waktu.
Saat kondisi seperti ini, dimana bapak sudah tidak aktif bekerja karena sakit stroke dan diabetes yang dideritanya, secara otomatis tulang punggung keluarga ada padaku. Gajiku yang pas-pasan, bahkan sering dibayarkan lewat dari tanggal yang tercantum dari kontrak kerja, tidak mencukupi kebutuhan keluarga. Belum adikku saat ini akan masuk kuliah. Ibuku sudah hampir stres dibuatnya. Adik banyak meminta uang untuk bayar pendaftaran kuliah. Itupun belum tentu masuk. Dua ratus sampai tiga ratus ribu harus kami keluarkan percuma. Tapi aku harus berusaha, agar adikku bisa melanjutkan kuliah. Sering ku arahkan ia untuk ikut ikatan dinas atau kalau tidak masuk, ia harus bisa cari uang sambil kuliah. Setidaknya bisa buat menutupi uang jajannya yang mungkin terbatas nantinya.
Masalah keluarga belum selesai, muncul masalah baru. Gajiku selama 1 tahun, harus kugelontorkan untuk bayar BPJS pakdhe dan keluarganya. Hampir setengah dari gajiku dipotong setiap bulannya untuk bayar BPJS itu. Bukan apa-apa, pakdhe dan keluarga tidak punya asuransi kesehatan, dan suatu hari pakdhe masuk rumah sakit dan harus menjalani operasi. Hampir 10 juta uang yang harus dibayarkan. Uang yang tidak sedikit dan itu semua aku harus ikut bantu. Keluarga mertua pakdhe tidak membantu sama sekali, semua kebutuhan dibantu aku dan keluargaku. Posisi kami pun punya pasien stroke dan diabetes yang harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Jadi BPJS jadi alternatifku untuk meringankan beban rumah sakit kalau sewaktu waktu keluarga pakdhe sakit lagi. Pakdhe sendiri tidak bekerja, istrinya hanya guru PAUD yang gajinya pun tak seberapa. Anaknya pertamanya kuliah di Jakarta, yang kedua Bandung, dan yang ketiga mau masuk SMP.
Aku selalu berfikir, ada orang yang punya masalah lebih berat dari aku. Mengeluh bukan pilihan. Selama kamu bisa bangkit dan bisa melakukan apapun untuk keluargamu, kakimu tidak akan rapuh sedikitpun. Kakimu akan membuatmu berdiri menghadapi semua ini.
Aku selalu mengatakan "AKU BISA!". Ini bukan apa-apa.
Berbisiklah sepuasnya dan sesuka hatimu. Biarkan mereka mendengar sayu langkah perjalanan dalam setiap ceritamu. Karena saat kau berteriak, mereka hanya akan berpaling dan tidak akan pernah mau mendekat untuk mendengarkan. Berbisiklah sepuas dan sesuka hatimu. Sampai kau menemukan ia yang mau mendengarkan kesedihan dalam gelak tawamu. Berbisiklah sepuas dan sesuka hatimu. Sampai bisikanmu terus berbisik walau mulutmu tidak pernah berucap kembali.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga
Selamat siang, Asmi. Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...
-
Aku tahu ada hati yang kau jaga Dan ada hati yang berharap Sedangkan hatiku bukan apa apa Tapi bisakah aku berziarah waktu Untuk hatiku ...
-
Postingan lama. Kayaknya ini yang terakhir bantu mereka belajar tentang teater. Walaupun pesertanya gak menang, tapi ada kebangg...
-
Ribuan tangan menyentuhku Memberikanku selembar kertas putih Memberikan untaian doa suci Tangis, canda, tawa, marah Semua dilimp...
No comments:
Post a Comment