Friday, February 26, 2021

Sukandi, Pecinta Sundari

Sukandi, nama salah satu anggota Klub Edukator di Museum KAA. Awal ketemu entah bagaimana. Mungkin pernah ketemu sebelumnya di rangkaian acara KAA 2015. Tapi samar-samar mulai kenal saat Asmi sedang PKL di Museum KAA. Banyak kegiatan mahasiswi PKL yang berhubungan dengan Klub Edukator dan akhirnya sering ketemu. Sukandi ini anggota tetap Tim Logistik Museum KAA selain Hagi dan Fale. Kemana mana selalu bertiga. Sudah seperti logistik warriors. Tidak pernah berubah posisi kepanitiaan. Selalu ditempatkan di logistik. Mungkin pernah, tapi seringnya di logistik.

Saking seringnya berada di satu kegiatan yang sama, mahasiswi PKL dan beberapa teman dari edukator menjadi lebih dekat satu sama lain. Sering berbagi cerita dan tawa. Sampai larut malam pun akan dilakoni karena pembahasan kita kebanyakan tentang sejarah.

Sosok Sukandi, dulu bagian dari sejarah UNPAD, menjadi sering ditanya perihal sejarah oleh kami mahasiswi PKL yang sejarahnya hanya sekedar tahu. Banyak hal yang didapat. Hingga akhir perjalanan hidupnya, ia masih aktif di Museum KAA sebagai edukator.

Momen Oetari bersama Sukandi tidak banyak, tapi bisa membuat berkesan. Tidak hanya tentang "bengek"nya bahkan cintanya yang hanya untuk Sundari atau bahkan kawannya epul. Sukandi adalah sosok yang selalu ada saat temannya kesulitan. Kisahnya sebagai pejuang Benteng Skripsi menjadi cerita paling epik. Membantu teman temannya untuk lulus bahkan dia pun masih berjuang untuk lulus.

Pernah, suatu waktu, kita berdua pergi untuk pengajuan proposal sponsorship ke daerah Padalarang. Berangkat pagi sekitar jam 8an. Kita ketemu di Museum KAA. Menyusuri pabrik pabrik berharap proposalnya di acc, apa daya hanya bisa sampai proses memberikan proposal saja. Sedangkan waktu masih sekitar jam 10.

"Pernah ke stone garden, gak?"

Pertanyaan ini memulai perjalanan kita ke stone garden dan ke gua (dan oetari lupa namanya). Perjalanan yang menanjak sampai kaki agak nyut nyutan. Tapi sepanjang jalan, Sukandi memberikan informasi layaknya sedang museum tour. Banyak cobaannya saat di stone garden. Mulai dari Hujan angin, salah parkiran, sampai foto di tebing batu walaupun petir udah gemerlap gemerlap, kita optimis harus ambil foto di sana. Karena lumayan, udah bayar tiket dan kaki nyut nyutan.

Asmanya kambuh waktu pulang. Kita rehat dulu di warung biar dia juga bisa menstabilkan lagi pernapasannya. Kawan ini sudah persediaan obat asmanya. Dia bilang tidak masalah. Saat itu memang hawanya dingin banget. Hampir 1 jam, baru dia bilang kita harus pulang.

Sepanjang jalan dia cerita tentang epul bahkan sundari. Epul memang seseorang yang selalu dia ceritakan dan sosoknya ada di dunia ini. Tapi sundari? Belum pernah Sukandi menunjukan Sundari baik dalam wujud nyata berupa manusia atau foto. Masih menjadi misteri..

Kini, Sukandi sudah tenang. Bengeknya sudah hilang. Tapi kenangannya tentang Sukandi masih ada. Untaian ceritanya tentang epul, sundari, dan benteng skripsi masih berbekas.

Senang bertemu denganmu, kawan.
Sampai jumpa lagi, Sukandi.

25 Desember 2020

No comments:

Post a Comment

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi.  Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...