Tuesday, May 12, 2026

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi. 

Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin?


Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya, setiap harinya mulai terasa biasa saja. Namun reaksinya masih terus saja menghantui. Sulit mengupayakan semuanya baik - baik saja. 

Baru kuhadapi dilema yang terus muncul akhir - akhir ini. Aku suka malam yang tenang dan bisa melihat langit gelap. Tetap cantik walau hanya dihiasi bintang - bintang. Tapi aku sangat membenci malam, karena suara berisik itu selalu datang saat malam. 

Kau tahu kenapa aku sangat menyukai malam? Karena memori yang kupunya, malam adalah momen yang sangat indah. Aku bisa berbincang, tertawa, dan merasa dekat dengan dia yang nanti aku panggil Bulan. Sebelumnya aku tidak dekat dengan Bulan, tapi ia selalu menjadi seseorang yang bisa membuat aku terkesima dengan semua yang ada di dirinya. Ia yang kutemui di tahun 2011 tepat pertama kali saat buka puasa. 

Buka puasa 2011 adalah momen aku bertemu dia. Perawakannya tidak bisa kulihat jelas karena aku hanya bisa menunduk dan tak berani menatap yang hadir kala itu. Hanya suaranya saja yang bisa kudengar. Suara yang pelan dan tegas. Beberapa kali aku coba melirik untuk melihat seperti apa rupanya, tapi tak ada keberanian. Kata yang kuingat adalah "Kamu mau jadi ayam negeri atau ayam kampung? Jelas berbeda kualitasnya". Selebihnya hanya kata - kata yang sulit kucerna. Pertemuan pertama ini cukup membuatku terkesima dengan kehadirannya. Ada rasa kagum, karena aku bertemu dengan sosok yang dirasa cocok denganku. Menanamkan harapan bahwa ia akan membawaku menjadi lebih baik dan bisa mengajarkan apa artinya "bertahan hidup". 

Pertemuan kedua, saat di sekolah. Selepas pulang sekolah, ia tiba - tiba datang. Tapi kehadirannya membuat segan dan menjaga jarak dengannya. Harus kuakui, aku tidak punya kelebihan untuk berhadapan dengannya. Apa yang bisa kulakukan? Ia selalu berbicara dengan rekanku. Menurutku karena dia spesial. rekanku ini secara personality sangat bagus. Ia pemberani, pintar, cerdas, dan punya prinsip yang kuat. Itulah kenapa dia lebih disukai. Sedangkan aku hanya seorang yang ikut - ikutan, tak punya kelebihan apa - apa, sehingga tak ada juga yang bisa dibagikan. Memang dari dulu aku tidak bisa apa - apa. Jadi merasa sadar diri, bahwa berhadapan dengan Bulan akan menjadi tantangan terberatku. 

Tanpa kusadari, aku mulai berusaha untuk bisa terlihat di mata Bulan. menjadi seseorang yang bisa ia perhitungkan. Bahwa aku sama nilainya dengan rekanku itu. "Aku Bisa" bukan lagi menjadi sebuah kalimat biasa. Kalimat itu menjadi pendorong bagaimana aku bisa terlihat semuanya termasuk dengan Bulan. Gagal terlihat, maka aku mencoba terus walaupun hanya sebentar. Ungkapan kecil ataupun interaksi kecil dari Bulan sudah membuat aku senang. Aku senang saat dia tersenyum dan berbicara sambil menatapku. 

Kita bertemu di usiaku masih remaja. Dia sudah mau masuk kepala 4. Momen dengan dia masih teringat jelas sampai hari ini.   

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi.  Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...