Wednesday, February 24, 2021

JALAN YANG LAIN by LT

SETTING, SORE HARI DI SEBUAH RUANGAN TEMPAT PERTEMUAN, YANG MENJADI BASECAMP DARI KEGIATAN PARA AKTIVIS.

HENDRA

Sepertinya, rencana kita akan gagal.

DINI

Gagal, apa maksudmu?

HENDRA

Kita tidak mungkin berhasil lagi dengan semua rencana pergerakan ini. Sudah saatnya kita mengakhiri semuanya, kita harus segera menyingkir, karena keadaan sudah semakin kritis.  Sudah saatnya, kita harus tinggalkan tempat ini dan mulai dengan kehidupan baru.

DINI

Kita?

HENDRA

Ya, kita! Kau dan aku.

DINI

Ah, pergilah kau sendiri dengan rencanamu itu. Aku akan tetap di sini bersama yang lain. Kalau kau takut, pergilah! Pergerakan ini tak butuh pengecut seperti mu.

HENDRA

Apalagi yang harus diperjuangkan dari pergerakan ini? Kita sudah berada dalam posisi kritisdan hanya bisa terus menunggu, sementara pergerakan ini hanya bisa melawan dengan dengan demo dan orasi.Sedangkan musuh berkeliaran dengan moncong senjatanya,ini sungguh tidaklah adil.

DINI

Tapi memang itukan tujuan  pergerakan ini? Melawan setiap ketidakadilan yang begitu lama merajalela. Ketidakadilan dari rezim yang terus bercokol di negeri ini. Kalau kau sudah merasa lelah,  pergilah dan tak perlu pula mengajakku.

HENDRA

Tapi kau mencintaiku.

DINI

Apa?

HENDRA

Aku mencintaimu.

DINI

Aku mencintaimu?

HENDRA

Iya.. ak..

NAMUN TIBA-TIBA MASUK RETNO DENGAN TERESA-GESA.

Retno

(TERENGAH-ENGAH) Mana Anisa?

HENDRA

Hei, tak bisakah kau masuk dengan permisi.

Retno

Ini bukan saatnya untuk basa-basi. Kami berempat dikejar para pria bersenjata.

DINI

Hah? Siapa, aparat?

RETNO

Entahlah, tapi yang jelas mereka mengenal kita. Kami berempat berusaha lari saat mereka menghadang. Aku sempat bersembunyi saat kami terpisah, tadinya ku kira Nisa dan yang lain sudah ada sampai di sini.

HENDRA

Sebaiknya kita memang harus segera pergi dari tempat ini. Keadaan sudah tak lagi kondusif.

DINI

Lalu keadaan seperti apa yang kondusif menurutmu itu? Hanya duduk santai dan ongkang-ongkang kaki, ini pergerakan Bung, bukan sedang vakansi.

MASUK YUDI DAN ANISA YANG TERLUKA AKIBAT TEMBAKAN, DIBANTU FARIDA.

YUDI

Din.. Dra.. cepat tolong kami!

Retno

Astaga, kenapa Annisa?

YUDI

Dia tertembak.

 

HENDRA

Haris Mana?

 

YUDI

(MENGHAMPIRI MEJA MAKAN DAN MEMINUM AIR MINERAL YANG BERADA DALAM KARDUS)Jadi dia belum sampai? Sepertinya dia sudah  tertangkap (PANIK) Saat bertemu dengan mereka, kita berempat terpisah, aku tidak tahu bagaimana persisnya dan kurasa, mereka tahu kita sudah mendapatkan bukti-buktinya.(TERDENGAR ANNISA MERINTIH KESAKITAN)

 

ANNISA

Aduh... ! (RETNO MEMBERSIHKAN DARAH YANG MENGUCUR DI KAKI ANNISA DIBANTU FARIDA)

 

RETNO

bertahanlah, Nis. Bagaimana ini?

Bawa ke rumah sakit. Sudah tidak ada waktu lagi. Bisa semakin parah nantinya.

 

HENDRA

Itu tidak mungkin. Rumah Sakit pasti mendapatkan penjagaan ketat. Bunuh diri namanya!

 

RETNO

Kalau begitu, bawa saja ke rumahnya.

FARIDA

Tapi kamu perlu perawatan

DINI

Maaf, Siapa anda?

FARIDA

Oh,maaf saya belum memperkenalkan diri. Saya farida. Wartawan. Saya yang akan membantu kalian dalam mempublikasiakan bukti-bukti itu. Saya sudah menunggu annisa dan kawan-kawan dari tadi. Tapi karena mereka tak kunjung datang, akhirnya saya berinisiatif untuk datang. Tapi saat saya bertemu, saya melihat annisa tertembak lalu saya membantunya

DINI

Oh, baiklah. Yud, Bawa Annisa ke rumahmu. Bertahan di sini pun percuma. Tidak ada yang bisa mengobatinya.

 

YUDI

Bagaimana Nis?

ANNISA

Ya, terserahlah

YUDI

Baiklah. Ini berkas-berkas yang tadi aku bawa (MENYIMPANNYA DI ATAS MEJA). Kami akan kembali kalau keadaan sudah kondusif

(MEMBOPONG ANNISA. KELUAR)

 

HENDRA

Kau lihat sendiri? (MENATAP DINI) apakah kau akan masih bertahan dalam kondisi yang sudah tak terkendali seperti ini? Kau akan mati kalau kau masih tetap dengan prinsip kau itu.

 

RETNO

 Kau jangan menganggap enteng. Kita semua, para aktivis, semuanya ketakutan dalam kondisi kacau seperti ini

 

DINI

Cukup! Beraninya kau bilang seperti itu setelah apa yang kau jejali kepada kawan-kawan kau yang diluar sana tentang politik, hukum, dan sebagainya. Kau itu sama saja dengan pengecut!Kau sama saja sudah menipu masyarakat

 

HENDRA

Beraninya kau! aku tidak menipu mereka. Mereka sendiri yang bergerak! Jangan seenaknya saja bicara seperti itu(MEREMAS TANGANNYA)

 

DINI

Kenapa? Tidak suka? Mau marah? Silahkan. Aku tidak takut berhadapan dengan pengecut sepertimu.

 

RETNO

Jaga omonganmu, Din!

 

DINI

Kau membela dia? Berarti kau sama saja seperti dia!

 

HENDRA

Din, dengar! Aku hanya berusaha untuk menempatkan diri pada posisi yang seharusnya. Tidak mungkin kita tetap bertahan pada kondisi yang sangat berbahaya. Aku sudah capek.

 

DINI

Ah.. !Sekali pengecut tetaplah pengecut. Tidak usah kau pungkiri lagi.

 

HENDRA

Kurang ajar kau! Beraninya kau menganggapku pengecut! Aku sudah berjasa dalam pergerakan ini. banyak hal yang sudah kubuang demi mementingkan pergerakan yang bisanya hanya demo dan orasi. Aku jengah! Aaku sudah tidak tahan! Aku muak! Aku keluar dari pergerakan ini. Ayo Retno, Kita tinggalkan tempat tak berharga ini. (HENDRA KELUAR. RETNO MENGIKUTI DI BELAKANG HENDRA)

 

DINI

  Pergilah kalian jauh-jauh. Aku akan tetap disini.Perjuangan ini tidak membutuhkan orang-orang pengecut. Aku tidak takut pada apapun. Aku tidak takut pada siapapun. Meski beribu-ribu moncong senapan mengarah padaku. Aku tak takut kehilangan apapun. Walaupun nyawaku taruhannya (MELEMAS) Pergi! Pergi!

 

 

FARIDA

Ayolah! Perjuangan kita belum berakhir sampai kini. Kau jangan menyerah begitu!

 

DINI

Aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua telah meninggalkanku

FARIDA

Masih banyak kawan-kawan di luar sana yang membutuhkan orang-orang seperti kita. (MENGAMBIL BERKAS-BERKAS BUKTI)Kita sebarluaskan bukti-bukti ini kepada seluruh masyarakat. Aku akan tetap bertahan, walaupun kondisinya sudah tidak terkontrol seperti ini. Kau mau ikut?

 

DINI

Aku ingin membantuku?

FARIDA

Iya

DINI

Baiklah, kalau kau memang ingin membantuku. Ini bukti-buktinya, semua yang dibutuhkan ada di sini.

FARIDA

Kalau begitu, lekaslah kita pergi menyebarluaskan bukti-bukti ini. sebelum para aparat menangkap kita.

DINI

Kau saja duluan. Aku akan menyusul. Aku ingin sendiri dulu.

 

FARIDA

Baiklah kalau begitu, sebaiknya kau berhati-hati. aku duluan. (PERGI)  

 

FAde Out:

The End

No comments:

Post a Comment

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi.  Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...