Wednesday, February 24, 2021

SINGGASANA BELUDRU

 


            LAMPU MENYOROT KE PONDOK KUMUH. MASUKLAH SEORANG PRIA BERPAKAIAN SEDERHANA LALU MENGHAMPIRI PONDOK KUMUH.

PRIA                  : Pemberian bapak masih ada ternyata (MEMBERSIHKAN PONDOK DARI TANAMAN LIAR). Lumayan buat tempat tinggal sementara. Istriku, cepatlah kemari. Bantu aku membersihkan pondok pemberian bapak.

WANITA           : Sebentar (DATANG TERGOPOH – GOPOH). Tadi bajuku tersangkut (MEMPERLIHATKAN BAJUNYA YANG SOBEK).

PRIA                  : Nanti aku belikan baju baru untukmu (MENGELUS KEPALA ISTRINYA). Bantu aku menyalakan obor di pinggir pondok.

LAMPU PADAM LALU MENYALA KEMBALI. TERLIHAT PRIA DAN WANITA TADI SEDANG DUDUK DI PONDOK KUMUH ITU. WANITA SEDANG MENJAHIT PAKAIAN DAN PRIA SEDANG MERENUNG.

PRIA                  : (MEREBAHKAN KEPALANYA KE PANGKUAN WANITA) Kalau saja harta kita melimpah. Mungkin tidak akan seperti ini ya?

WANITA           : Bisa memenuhi kebutuhan saja sudah beruntung (MENJAHIT )

 PRIA                 : Memangnya kau sanggup sampai tua nanti tetap seperti ini? Kalau mau makan harus mencari dulu ke hutan dan mengolahnya sendiri. Kalau mau cuci pakaian, harus ke mata sungai belakang pondok. Semua dilakukan sendiri. Belum lagi harus bayar upeti kepada kerajaan. Mau tidak mau, uang harus dicari.

WANITA           : Hmmm… (TETAP SIBUK DENGAN AKTIVITAS MENJAHITNYA)

PRIA                  : Enak sekali ya yang tinggal minta upeti. Tidak tahu betapa susahnya kita.

WANITA           : Bekerja keraslah. Jangan mengeluh dan patah semangat. Kau melakukan ini untuk bertahan hidupkan? Usahamu itu tidak pernah ternilai oleh materi. Kau yang harus memaknainya.

PRIA                  : Makna? Harus menjadi rendah hati maksudmu?

WANITA           : (HANYA MENGANGGUK DAN TETAP DENGAN AKTIVITAS MENJAHITNYA)

PRIA                  : Rendah hati itu kan kita sendiri yang melakukannya. Kita yang tahu dan paham apa yang kita lakukan itu adalah kebaikan. Kalau orang lain yang melihat kita, malah seperti orang bego. Mau saja dibodohi.

WANITA           : (MENGHENTIKAN AKTIVITASNYA DAN MENGELUS KEPALA PRIA) maka, gunakanlah pikiran dan hatimu. Gunakan keduanya. Awas.. aku mau menyiapkan makanan.

LAMPU PADAM.

PRIA                  : Istriku! Istriku! Kau dimana?

WANITA           : Kenapa? (KELUAR DARI BELAKANG PONDOK)

PRIA                  : Aku sekarang bekerja di kerajaan.

WANITA           : Bagaimana bisa?

PRIA                  : Tiba – tiba saja ada seorang petinggi kerajaan datang dan menawarkanku bekerja di kerajaan. Bilangnya, kalau ini itu pekerjaan mudah. Hanya mengkuti apa yang dia perintahkan.

WANITA           : Kau tidak bertanya untuk apa?

PRIA                  : Bilangnya, ada persoalan di kerajaan untuk menurunkan seseorang karena orang tersebut sudah banyak melakukan kesalahan. Sepertinya sih … ah sudahlah! Tidak penting. Bukan urusanku.

WANITA           : Kau yakin?

PRIA                  : Tidak ada apa – apa. Aku hanya disuruh untuk melakukan yang dia perintahkan. Dia kelihatan seperti orang baik.

WANITA           : Aku rasa tidak.

PRIA                  : Apalagi yang kau khawatirkan? Hidup kita sudah mulai terjamin nanti. Kau tidak usah cemas.

WANITA           : Sepertinya mereka punya maksud jahat.

PRIA                  : Pikiranmu itu terlalu mengada – ada.

WANITA           : Bagaimana tidak? Kau itu hanya buruh ketik di kantor upeti. Kemampuanmu pun …

PRIA                  : Berani kau merendahkanku? Bukannya mendukung tapi kau malah melecehkanku? Istri macam apa? Sudahlah! Aku sendiri yang menentukan. Nanti kau juga yang dapat enaknya.

LAMPU PADAM.

LAMPU MENYOROT KE SINGGASANA BERWARNA MERAH BERLAPIS BELUDRU. OBOR – OBOR YANG BERDERET DI SAMPING SINGGASANA TERUS BERKOBAR. TERDENGAR NYANYIAN – NYANYIAN MERDU YANG MENGALUN MENGHANTARKAN SEORANG WANITA MASUK DAN MENGHAMPIRI SINGGASANA.

WANITA             : Ini semua yang sudah merubah suamiku. Harus berapa kali kukatakan kalau dia hanya dimanfaatkan. Suara hatiku benar. Hati ini semakin menjerit saat kupaksa diriku untuk menghantarkan dia ke singgasana ini (HENING DAN TERDENGAR SUARA ANGIN. WANITA ITU MENGIKUTI ARAH ANGIN ITU). Apakah ini semua yang dia inginkan? Mengapa? Apakah kehidupan kita dulu kurang memuaskan nafsu duniawimu? Aku sebagai pendamping dirimu akan selalu mendukungmu. Kemana kakimu berpijak, aku akan tetap menemanimu. Sayang.. bisakah kau kembali untukku? Betapa rindunya aku membelai rambutmu. Menjadi sandaranmu disaat kau mulai menangis. Berusaha memegang pergelangan tanganmu disaat aku mulai takut untuk jauh darimu. (WANITA ITU DUDUK DI SINGGASANA) Tapi kau bilang aku harus mulai menjauh darimu? Apa salahku? Aku selalu ada di saat kamu terjatuh dan menyeka air matamu. Mengapa? Mungkin sekarang aku akan mencoba untuk menarik kembali dirimu. Harus kulakukan semua cara untuk bisa mendapatkanmu kembali.

TERDENGAR SUARA YANG BERGEMURUH. SUARA TAWA SEORANG LAKI – LAKI MENJADI PERTANDA BAHWA SESEORANG YANG BERKUASA MEMASUKI PANGGUNG.

PRIA                    : Menyenangkan sekali hidup ini. (WANITA YANG SEDANG DUDUK LANGSUNG BERDIRI DAN MENJAUH DARI SINGGASANA) Sudah lama sekali aku menanti hal yang dianggap semua orang mustahil. Jadi orang itu harus cerdas. Benar sekali yang dikatakan petinggi kerajaan itu. Eh… sedang apa kamu di sini?

WANITA             : Aku hanya sedang khawatir saja. (MENYEKA AIR MATANYA)

PRIA                    : Kau menangis? Ada apa? (DUDUK DI SINGGASANA) nampaknya ada pikiran yang mengahantuimu? Memangnya semua yang sudah kuberikan kepadamu itu masih kurang? Emas yang kuberi itu kurang?

WANITA             : Bukan itu.

PRIA                    : Kau ingin belanja dan uangnya kurang?

WANITA             : Bukan itu.

PRIA                    : Kau ingin pakaian mahal?

WANITA             : Tidak.

PRIA                    : Kau ingin jalan – jalan?

WANITA             : Tidak.

PRIA                    : Kau ingin benda mewah?

WANITA             : Tidak.

PRIA                    : (PRIA BANGKIT DARI SINGGASANANYA) Kau itu maunya apa? Ini bukan itu tidak. Memangnya kata yang kau pelajari itu Cuma bukan dan tidak. Dasar! Wanita sulit dimengerti. bukan kau saja. Semua! SEMUA WANITA. Banyak permintaan yang tidak masuk diakal.

WANITA             : Apa maksudmu?

PRIA                    : WANITA! Kau tidak dengar? Sekarang kau mulai tuli?

WANITA             : Ya wanita! Kau bermain dengan wanita mana lagi? Kurang puas dengan anak gadis yang kau cicipi setiap malamnya? Orang tua mereka menangis dan mengadu kepadaku. Mereka semua terpuruk dan kau seenaknya saja mengambil keperawanan anak gadis mereka? Aku malu! Aku malu! Dimana otakmu? (PRIA ITU DUDUK SAMBIL TERSENYUM) Aku masih di sini. Aku tidak pernah meninggalkanmu dan terus mendampingimu mulai dari awal. Sampai nanti pun akan tetap seperti itu. Tapi kau masih tidak meyakiniku?

PRIA                    : Kau sudah tidak ada gunanya. Kau itu hanya alat. Tidak lebih. Persoalan aku sudah melakukan hal yang kau anggap memalukan itu, itu bukan urusanku. Aku yang berkuasa di sini. Ini adalah wilayah kekuasaanku. Apapun yang ada di sini, semuanya adalah milikku. Orang menjijikan sepertimu itu cuma menumpang di daerah ke kuasaanku. Paham? Kau jangan seenaknya bilang (MENGIKUTI GAYA BERBICARA WANITA)  “aku tidak pernah meninggalkanmu dan terus mendampingimu mulai dari awal”. memangnya aku peduli? Kau sama seperti wanita lainnya. Selalu berkicau soal cinta dan ketulusan. Kalau kau hidup dibawah bayang cinta, mati saja. Hidup ini penuh dengan taktik dan strategi. Logika yang harus kau pakai. Saling menjatuhkan itu sudah seharusnya. Mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalau otakmu selalu kau pakai, harta dan tahta pun sudah pasti akan kau dapat. Tuhan menciptakan otak itu berpikir. Dilapisi tempurung kepala pun, agar otak itu tidak hancur dan kau masih tetap bisa berpikir.

WANITA             : Orang gila.

PRIA                    : Ya! Aku sudah gila. Gila untuk bertahan hidup! Kehidupan itu yang utama. P R I O R I T A S! Senangkanlah dirimu selagi kamu hidup. Jadi orang itu yang cerdas. Hidup itu Cuma sebentar. Manfaatkanlah. Cari kesenangan sebanyak – banyaknya.

WANITA             : Kau tidak pernah merasa kekurangan? (MENDEKATI PRIA ITU SEMBARI MENGEPALKAN TANGANNYA).

PRIA                    : Apa yang harus khawatirkan? Kekurangan soal apa? Harta? Aku sudah punya. Melimpah. Sampai tujuh turunan tujuh tanjakan pun tidak akan habis. Tahta. Aku punya uang, tahta pun bisa kudapatkan. (MENUNJUKKAN KANTONG UANG DAN TERDENGAR BUNYI KOIN – KOIN BERADU). Wanita? Mereka semua bisa kudapatkan dengan mudah. Tinggal ambil, bayar, kasihkan ke orang tuanya. Istri? Kau kan sudah jadi milikku. (MENDEKATI WANITA DAN MENGELUS PIPI WANITA ITU, TAPI LANGSUNG DITAMPIK)

WANITA             : Kalau tahu aku akan jadi istrimu, wahai bedebah busuk, aku tidak akan sudi. Pernah membelai rambutmu pun aku merasa itu adalah dosa terbesar yang sudah aku buat. Kurasa Tuhan sudah tahu kapan waktunya aku bertobat.

PRIA                    : Itu urusanmu dengan Tuhan. Tapi kau tahu, Tuhan sendiri memerintahkan istri untuk taat kepada suaminya. Bukan membangkang. Tobatmu itu tidak akan pernah diterima Tuhan! Lanjutkanlah keasyikanmu dengan kekuranganmu. Aku sudah pasti kekal di mata Tuhan.

WANITA             : Persetan dengan apa yang kau ucapkan dasar lelaki busuk! (MENJERIT)

PRIA                    : Sibukanlah dirimu dengan teriakanmu itu. Aku tidak peduli. Aku tidak akan ikut campur. Itu urusanmu. Oh, aku ada janji dengan si pirang manis. Kasihan dia sudah menanti di kamar. Sepertinya dia menggunakan parfum yang kemarin kubelikan. Soalnya wangi parfum itu sudah tercium sampai ke sini. (MENINGGALKAN RUANGAN).

            WANITA ITU MENJERIT SEKERAS – KERASNYA. SEKUMPULAN ORANG BERBAJU BESAR MEMBAWA KURSI PANJANG DAN MULAI MENGELILINGI WANITA TERSEBUT. WANITA ITU DUDUK DI KURSI YANG DIBAWA SEKUMPULAN ORANG TERSEBUT DAN MULAI BERSENANDUNG KECIL. SEKUMPULAN ORANG ITU MEMBERIKAN GERAKAN YANG SANGAT AGRESIF DI SAAT SENANDUNG WANITA ITU MULAI KENCANG SEHINGGA MENJERIT TAK KARUAN DAN KEMBALI MELEMBUT KETIKA SENANDUNG WANITA ITU MELEMAH. TATAPANNYA KOSONG. SEKUMPULAN ORANG ITU MULAI JATUH PERLAHAN SAAT WANITA ITU PERLAHAN BANGKIT DARI DUDUKNYA. WANITA ITU MENINGGALKAN PANGGUNG.

            SEKUMPULAN ORANG YANG TERJATUH TADI MEMBUAT GERAKAN YANG TIDAK KARUAN. BEBERAPA DIANTARA MEREKA ADA YANG MENGGUNAKAN TOPENG, MEMBAWA PAYUNG, KEGIRANGAN SAAT MENGGUNAKAN PERHIASAN DAN MENGHAMBURKAN KOIN – KOIN. MASUKLAH PRIA DENGAN PAKAIAN YANG BERANTAKAN DAN HAMPIR TANPA BUSANA. PRIA TERSEBUT AWALNYA IKUT MENARI TAPI PERLAHAN – LAHAN DIA KEHILANGAN KESEIMBANGAN DAN JATUH. BADANNYA MULAI MUNCUL PENYAKIT KULIT. DARAH MENGALIR DARI TUBUHNYA. SEKELOMPOK ORANG ITU TETAP MELANJUTKAN TARIANNYA SEMBARI MEMPORAK – PORANDAKAN SINGGASANA DAN MEMATIKAN OBOR – OBOR YANG MENYALA. SAMPAI AKHIRNYA TARIAN ITU DIHENTIKAN OLEH JERITAN PRIA TERSEBUT.

PRIA                    : Istrikuuuuu………… Tolong aku!

WANITA             : (MASUK DENGAN WAJAH DINGIN) Apa lagi yang kau inginkan dari alatmu ini wahai penguasa?

PRIA                    : Tolong aku istriku.

WANITA             : Pertolongan seperti apa yang kau inginkan?

PRIA                    : Mengapa kau seperti ini?

WANITA             : Kau yang sudah membuatku seperti ini. (DIAM TAK BERKUTIK)

PRIA                    : Picik sekali kau wanita jalang! Kau menaruh dendam kepadaku? Ini balasanmu kepadaku? Dasar wanita tidak tahu diuntung. Pergilah! Jangan pernah kembali lagi. Tanpamu pun aku sanggup hidup sendiri. Hidup itu harus cerdas. Pergi! Kau tidak berguna!

WANITA             : Baiklah (MASIH DENGAN TATAPAN DINGIN, LALU PERGI)

PRIA                    : Dasar wanita! Semua tidak ada yang mau kalau ada tidak enaknya. Persetan dengan cinta dan ketulusan. Mana? Kau berkoar tentang cinta dan ketulusan tapi yang aku lihat tadi seperti raga tak berjiwa. (MENAHAN SAKITNYA) Kemana dia? Semudah itu dia pergi? (BANGKIT DAN MELIHAT KE ARAH DIA PERGI) Tidakkah kau ingin membelai rambutku lagi? Biarkan aku bersandar di pangkuanmu lagi. Saat ini air mataku sudah tidak bisa terbendung. Apa yang harus kutebus untukmu? Apa?

            WANITA DATANG MEMBAWA BASKOM YANG BESAR BERISI AIR DAN HANDUK. DIA MENGANGKAT PRIA ITU KE ATAS KURSI DAN MENIDURKAN KEPALANYA DI PANGKUANNYA. SAMBIL BERSENANDUNG DIA MEMBERSIHKAN BADAN SUAMINYA YANG PENUH LUKA.

WANITA             : Ini yang harus kau tebus, sayang. Untuk semua yang telah kau lakukan. Hatimu itu sudah dibentengi oleh pikiranmu sendiri akan duniawi. Dunia itu seperti yang kau ucapkan. Hanya sementara. Bukan untuk kesenangan tapi untuk mencari ladang ibadah di hadapan Tuhan. Itulah yang sesungguhnya. Kau sudah berani menentang Tuhan. Inikah yang kau maksud kekal di mata Tuhan? Aku hanya seorang istri. Memberikan peringatan di saat suamiku berada di jalan yang salah. Tapi, tindakanmu, kaulah yang menentukan. Aku juga tidak tega melihatmu menderita. Tersakiti karena ulahmu sendiri. (MENITIKKAN AIR MATA SEMBARI TETAP MEBERSIHKAN LUKA SUAMINYA). Kau tahu kekurangan apa yang aku maksud? Suara – suara mungil yang mungkin bisa menjadi pengingat terakhirmu disaat kau melakukan kesalahan. Aku hanya ingin yang terbaik. Itu saja. Harta dan tahta itu tidak penting. Mati dalam kedamaian dan bersama orang yang kucintai pun sudah membukakan mataku akan surga yang begitu indah.

PRIA                    : Maafkan aku.

WANITA             : Sampai mati pun, maafku selalu menyertaimu. Tidak ada sama sekali dendam yang terlintas dalam benakku.

PRIA                    : Ini semua salahku.

WANITA             : Ini salahku juga. Tidak bisa mengingatkanmu. Bersimpuhlah dihadapan Tuhan. Biarkan maafmu kusampaikan kepada orang – orang yang kau sakiti. Karena aku tahu, mereka akan mencercamu dan menghinamu. Memohon maaflah kepada Tuhan. Jalan Tuhan lebih cerah.

PRIA                    : Terima kasih Tuhan kau berikan aku istri sepertinya. Kesalahanku tidak bisa terbayar oleh materi. Dosaku pun sudah melebihi jutaan bintang dilangit. Kesombonganku pun melebihi luas lautan di bumi. Terima kasih kau memberikan matahari ini untukku dimana sinarnya bisa menutupi bintang itu dan membantu menguapkan air di lautan walau hanya sebentar. Setidaknya dia berarti untuk menghilangkan sedikit saja dosa-dosaku Tuhan. Ampuni aku. Makhluk sempurna ciptaanmu namun tak sesempurna Engkau. Bukakanlah jalanku… (MENGGENGGAM TANGAN ISTRINYA)

WANITA             : Begitu lebih baik. Kau sudah berusaha untuk meminta. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tapi Tuhan tidak akan pernah datang dan pergi. Dia selalu ada. Selalu….

            WANITA ITU MEREBAHKAN KEPALA SUAMINYA DI KURSI. WANITA ITU MENGHAMPIRI SINGGASANA BELUDRU YANG TERJATUH. DIA MENGHANCURKAN SINGGASANA BELUDRU ITU.

 

LAYAR MENUTUP.  


Naskah ini pernah dibuat untuk Teater 193

Asma Oetari

No comments:

Post a Comment

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi.  Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...