LAMPU MENYOROT KE PONDOK KUMUH. MASUKLAH SEORANG PRIA BERPAKAIAN SEDERHANA LALU MENGHAMPIRI PONDOK KUMUH.
PRIA : Pemberian bapak masih ada
ternyata (MEMBERSIHKAN PONDOK DARI TANAMAN LIAR). Lumayan buat tempat tinggal
sementara. Istriku, cepatlah kemari. Bantu aku membersihkan pondok pemberian
bapak.
WANITA : Sebentar (DATANG TERGOPOH – GOPOH).
Tadi bajuku tersangkut (MEMPERLIHATKAN BAJUNYA YANG SOBEK).
PRIA : Nanti aku belikan baju baru
untukmu (MENGELUS KEPALA ISTRINYA). Bantu aku menyalakan obor di pinggir
pondok.
LAMPU PADAM LALU MENYALA
KEMBALI. TERLIHAT PRIA DAN WANITA TADI SEDANG DUDUK DI PONDOK KUMUH ITU. WANITA
SEDANG MENJAHIT PAKAIAN DAN PRIA SEDANG MERENUNG.
PRIA : (MEREBAHKAN KEPALANYA KE
PANGKUAN WANITA) Kalau saja harta kita melimpah. Mungkin tidak akan seperti ini
ya?
WANITA : Bisa memenuhi kebutuhan saja sudah
beruntung (MENJAHIT )
PRIA :
Memangnya kau sanggup sampai tua nanti tetap seperti ini? Kalau mau makan harus
mencari dulu ke hutan dan mengolahnya sendiri. Kalau mau cuci pakaian, harus ke
mata sungai belakang pondok. Semua dilakukan sendiri. Belum lagi harus bayar
upeti kepada kerajaan. Mau tidak mau, uang harus dicari.
WANITA : Hmmm… (TETAP SIBUK DENGAN AKTIVITAS
MENJAHITNYA)
PRIA : Enak sekali ya yang tinggal
minta upeti. Tidak tahu betapa susahnya kita.
WANITA : Bekerja keraslah. Jangan mengeluh
dan patah semangat. Kau melakukan ini untuk bertahan hidupkan? Usahamu itu
tidak pernah ternilai oleh materi. Kau yang harus memaknainya.
PRIA : Makna? Harus menjadi rendah
hati maksudmu?
WANITA : (HANYA MENGANGGUK DAN TETAP DENGAN
AKTIVITAS MENJAHITNYA)
PRIA : Rendah hati itu kan kita
sendiri yang melakukannya. Kita yang tahu dan paham apa yang kita lakukan itu
adalah kebaikan. Kalau orang lain yang melihat kita, malah seperti orang bego.
Mau saja dibodohi.
WANITA : (MENGHENTIKAN AKTIVITASNYA DAN
MENGELUS KEPALA PRIA) maka, gunakanlah pikiran dan hatimu. Gunakan keduanya.
Awas.. aku mau menyiapkan makanan.
LAMPU PADAM.
PRIA : Istriku! Istriku! Kau
dimana?
WANITA : Kenapa? (KELUAR DARI BELAKANG
PONDOK)
PRIA : Aku sekarang bekerja di
kerajaan.
WANITA : Bagaimana bisa?
PRIA : Tiba – tiba saja ada seorang
petinggi kerajaan datang dan menawarkanku bekerja di kerajaan. Bilangnya, kalau
ini itu pekerjaan mudah. Hanya mengkuti apa yang dia perintahkan.
WANITA : Kau tidak bertanya untuk apa?
PRIA : Bilangnya, ada persoalan di
kerajaan untuk menurunkan seseorang karena orang tersebut sudah banyak
melakukan kesalahan. Sepertinya sih … ah sudahlah! Tidak penting. Bukan
urusanku.
WANITA : Kau yakin?
PRIA : Tidak ada apa – apa. Aku
hanya disuruh untuk melakukan yang dia perintahkan. Dia kelihatan seperti orang
baik.
WANITA : Aku rasa tidak.
PRIA : Apalagi yang kau
khawatirkan? Hidup kita sudah mulai terjamin nanti. Kau tidak usah cemas.
WANITA : Sepertinya mereka punya maksud
jahat.
PRIA : Pikiranmu itu terlalu
mengada – ada.
WANITA : Bagaimana tidak? Kau itu hanya
buruh ketik di kantor upeti. Kemampuanmu pun …
PRIA : Berani kau merendahkanku?
Bukannya mendukung tapi kau malah melecehkanku? Istri macam apa? Sudahlah! Aku
sendiri yang menentukan. Nanti kau juga yang dapat enaknya.
LAMPU PADAM.
LAMPU MENYOROT KE SINGGASANA
BERWARNA MERAH BERLAPIS BELUDRU. OBOR – OBOR YANG BERDERET DI SAMPING
SINGGASANA TERUS BERKOBAR. TERDENGAR NYANYIAN – NYANYIAN MERDU YANG MENGALUN
MENGHANTARKAN SEORANG WANITA MASUK DAN MENGHAMPIRI SINGGASANA.
WANITA : Ini semua yang sudah merubah
suamiku. Harus berapa kali kukatakan kalau dia hanya dimanfaatkan. Suara hatiku
benar. Hati ini semakin menjerit saat kupaksa diriku untuk menghantarkan dia ke
singgasana ini (HENING DAN TERDENGAR SUARA ANGIN. WANITA ITU MENGIKUTI ARAH
ANGIN ITU). Apakah ini semua yang dia inginkan? Mengapa? Apakah kehidupan kita
dulu kurang memuaskan nafsu duniawimu? Aku sebagai pendamping dirimu akan
selalu mendukungmu. Kemana kakimu berpijak, aku akan tetap menemanimu. Sayang..
bisakah kau kembali untukku? Betapa rindunya aku membelai rambutmu. Menjadi
sandaranmu disaat kau mulai menangis. Berusaha memegang pergelangan tanganmu
disaat aku mulai takut untuk jauh darimu. (WANITA ITU DUDUK DI SINGGASANA) Tapi
kau bilang aku harus mulai menjauh darimu? Apa salahku? Aku selalu ada di saat
kamu terjatuh dan menyeka air matamu. Mengapa? Mungkin sekarang aku akan
mencoba untuk menarik kembali dirimu. Harus kulakukan semua cara untuk bisa
mendapatkanmu kembali.
TERDENGAR SUARA YANG
BERGEMURUH. SUARA TAWA SEORANG LAKI – LAKI MENJADI PERTANDA BAHWA SESEORANG
YANG BERKUASA MEMASUKI PANGGUNG.
PRIA : Menyenangkan sekali hidup
ini. (WANITA YANG SEDANG DUDUK LANGSUNG BERDIRI DAN MENJAUH DARI SINGGASANA)
Sudah lama sekali aku menanti hal yang dianggap semua orang mustahil. Jadi
orang itu harus cerdas. Benar sekali yang dikatakan petinggi kerajaan itu. Eh…
sedang apa kamu di sini?
WANITA : Aku hanya sedang khawatir saja.
(MENYEKA AIR MATANYA)
PRIA : Kau menangis? Ada apa?
(DUDUK DI SINGGASANA) nampaknya ada pikiran yang mengahantuimu? Memangnya semua
yang sudah kuberikan kepadamu itu masih kurang? Emas yang kuberi itu kurang?
WANITA : Bukan itu.
PRIA : Kau ingin belanja dan
uangnya kurang?
WANITA : Bukan itu.
PRIA : Kau ingin pakaian mahal?
WANITA : Tidak.
PRIA : Kau ingin jalan – jalan?
WANITA : Tidak.
PRIA : Kau ingin benda mewah?
WANITA : Tidak.
PRIA : (PRIA BANGKIT DARI
SINGGASANANYA) Kau itu maunya apa? Ini bukan itu tidak. Memangnya kata yang kau
pelajari itu Cuma bukan dan tidak. Dasar! Wanita sulit dimengerti. bukan kau
saja. Semua! SEMUA WANITA. Banyak permintaan yang tidak masuk diakal.
WANITA : Apa maksudmu?
PRIA : WANITA! Kau tidak dengar?
Sekarang kau mulai tuli?
WANITA : Ya wanita! Kau bermain dengan
wanita mana lagi? Kurang puas dengan anak gadis yang kau cicipi setiap
malamnya? Orang tua mereka menangis dan mengadu kepadaku. Mereka semua terpuruk
dan kau seenaknya saja mengambil keperawanan anak gadis mereka? Aku malu! Aku
malu! Dimana otakmu? (PRIA ITU DUDUK SAMBIL TERSENYUM) Aku masih di sini. Aku
tidak pernah meninggalkanmu dan terus mendampingimu mulai dari awal. Sampai
nanti pun akan tetap seperti itu. Tapi kau masih tidak meyakiniku?
PRIA : Kau sudah tidak ada
gunanya. Kau itu hanya alat. Tidak lebih. Persoalan aku sudah melakukan hal
yang kau anggap memalukan itu, itu bukan urusanku. Aku yang berkuasa di sini.
Ini adalah wilayah kekuasaanku. Apapun yang ada di sini, semuanya adalah
milikku. Orang menjijikan sepertimu itu cuma menumpang di daerah ke kuasaanku.
Paham? Kau jangan seenaknya bilang (MENGIKUTI GAYA BERBICARA WANITA) “aku tidak pernah meninggalkanmu dan terus
mendampingimu mulai dari awal”. memangnya aku peduli? Kau sama seperti wanita
lainnya. Selalu berkicau soal cinta dan ketulusan. Kalau kau hidup dibawah
bayang cinta, mati saja. Hidup ini penuh dengan taktik dan strategi. Logika
yang harus kau pakai. Saling menjatuhkan itu sudah seharusnya. Mendapatkan apa
yang kita inginkan. Kalau otakmu selalu kau pakai, harta dan tahta pun sudah
pasti akan kau dapat. Tuhan menciptakan otak itu berpikir. Dilapisi tempurung
kepala pun, agar otak itu tidak hancur dan kau masih tetap bisa berpikir.
WANITA : Orang gila.
PRIA : Ya! Aku sudah gila. Gila
untuk bertahan hidup! Kehidupan itu yang utama. P R I O R I T A S! Senangkanlah
dirimu selagi kamu hidup. Jadi orang itu yang cerdas. Hidup itu Cuma sebentar.
Manfaatkanlah. Cari kesenangan sebanyak – banyaknya.
WANITA : Kau tidak pernah merasa
kekurangan? (MENDEKATI PRIA ITU SEMBARI MENGEPALKAN TANGANNYA).
PRIA : Apa yang harus
khawatirkan? Kekurangan soal apa? Harta? Aku sudah punya. Melimpah. Sampai
tujuh turunan tujuh tanjakan pun tidak akan habis. Tahta. Aku punya uang, tahta
pun bisa kudapatkan. (MENUNJUKKAN KANTONG UANG DAN TERDENGAR BUNYI KOIN – KOIN
BERADU). Wanita? Mereka semua bisa kudapatkan dengan mudah. Tinggal ambil,
bayar, kasihkan ke orang tuanya. Istri? Kau kan sudah jadi milikku. (MENDEKATI
WANITA DAN MENGELUS PIPI WANITA ITU, TAPI LANGSUNG DITAMPIK)
WANITA : Kalau tahu aku akan jadi istrimu,
wahai bedebah busuk, aku tidak akan sudi. Pernah membelai rambutmu pun aku
merasa itu adalah dosa terbesar yang sudah aku buat. Kurasa Tuhan sudah tahu
kapan waktunya aku bertobat.
PRIA : Itu urusanmu dengan Tuhan.
Tapi kau tahu, Tuhan sendiri memerintahkan istri untuk taat kepada suaminya.
Bukan membangkang. Tobatmu itu tidak akan pernah diterima Tuhan! Lanjutkanlah
keasyikanmu dengan kekuranganmu. Aku sudah pasti kekal di mata Tuhan.
WANITA : Persetan dengan apa yang kau
ucapkan dasar lelaki busuk! (MENJERIT)
PRIA : Sibukanlah dirimu dengan
teriakanmu itu. Aku tidak peduli. Aku tidak akan ikut campur. Itu urusanmu. Oh,
aku ada janji dengan si pirang manis. Kasihan dia sudah menanti di kamar.
Sepertinya dia menggunakan parfum yang kemarin kubelikan. Soalnya wangi parfum
itu sudah tercium sampai ke sini. (MENINGGALKAN RUANGAN).
WANITA
ITU MENJERIT SEKERAS – KERASNYA. SEKUMPULAN ORANG BERBAJU BESAR MEMBAWA KURSI
PANJANG DAN MULAI MENGELILINGI WANITA TERSEBUT. WANITA ITU DUDUK DI KURSI YANG
DIBAWA SEKUMPULAN ORANG TERSEBUT DAN MULAI BERSENANDUNG KECIL. SEKUMPULAN ORANG
ITU MEMBERIKAN GERAKAN YANG SANGAT AGRESIF DI SAAT SENANDUNG WANITA ITU MULAI
KENCANG SEHINGGA MENJERIT TAK KARUAN DAN KEMBALI MELEMBUT KETIKA SENANDUNG
WANITA ITU MELEMAH. TATAPANNYA KOSONG. SEKUMPULAN ORANG ITU MULAI JATUH
PERLAHAN SAAT WANITA ITU PERLAHAN BANGKIT DARI DUDUKNYA. WANITA ITU
MENINGGALKAN PANGGUNG.
SEKUMPULAN
ORANG YANG TERJATUH TADI MEMBUAT GERAKAN YANG TIDAK KARUAN. BEBERAPA DIANTARA
MEREKA ADA YANG MENGGUNAKAN TOPENG, MEMBAWA PAYUNG, KEGIRANGAN SAAT MENGGUNAKAN
PERHIASAN DAN MENGHAMBURKAN KOIN – KOIN. MASUKLAH PRIA DENGAN PAKAIAN YANG
BERANTAKAN DAN HAMPIR TANPA BUSANA. PRIA TERSEBUT AWALNYA IKUT MENARI TAPI
PERLAHAN – LAHAN DIA KEHILANGAN KESEIMBANGAN DAN JATUH. BADANNYA MULAI MUNCUL
PENYAKIT KULIT. DARAH MENGALIR DARI TUBUHNYA. SEKELOMPOK ORANG ITU TETAP
MELANJUTKAN TARIANNYA SEMBARI MEMPORAK – PORANDAKAN SINGGASANA DAN MEMATIKAN
OBOR – OBOR YANG MENYALA. SAMPAI AKHIRNYA TARIAN ITU DIHENTIKAN OLEH JERITAN
PRIA TERSEBUT.
PRIA : Istrikuuuuu………… Tolong
aku!
WANITA : (MASUK DENGAN WAJAH DINGIN) Apa
lagi yang kau inginkan dari alatmu ini wahai penguasa?
PRIA : Tolong aku istriku.
WANITA : Pertolongan seperti apa yang kau
inginkan?
PRIA : Mengapa kau seperti ini?
WANITA : Kau yang sudah membuatku seperti
ini. (DIAM TAK BERKUTIK)
PRIA : Picik sekali kau wanita
jalang! Kau menaruh dendam kepadaku? Ini balasanmu kepadaku? Dasar wanita tidak
tahu diuntung. Pergilah! Jangan pernah kembali lagi. Tanpamu pun aku sanggup
hidup sendiri. Hidup itu harus cerdas. Pergi! Kau tidak berguna!
WANITA : Baiklah (MASIH DENGAN TATAPAN
DINGIN, LALU PERGI)
PRIA : Dasar wanita! Semua tidak
ada yang mau kalau ada tidak enaknya. Persetan dengan cinta dan ketulusan.
Mana? Kau berkoar tentang cinta dan ketulusan tapi yang aku lihat tadi seperti
raga tak berjiwa. (MENAHAN SAKITNYA) Kemana dia? Semudah itu dia pergi?
(BANGKIT DAN MELIHAT KE ARAH DIA PERGI) Tidakkah kau ingin membelai rambutku
lagi? Biarkan aku bersandar di pangkuanmu lagi. Saat ini air mataku sudah tidak
bisa terbendung. Apa yang harus kutebus untukmu? Apa?
WANITA
DATANG MEMBAWA BASKOM YANG BESAR BERISI AIR DAN HANDUK. DIA MENGANGKAT PRIA ITU
KE ATAS KURSI DAN MENIDURKAN KEPALANYA DI PANGKUANNYA. SAMBIL BERSENANDUNG DIA
MEMBERSIHKAN BADAN SUAMINYA YANG PENUH LUKA.
WANITA : Ini yang harus kau tebus, sayang.
Untuk semua yang telah kau lakukan. Hatimu itu sudah dibentengi oleh pikiranmu
sendiri akan duniawi. Dunia itu seperti yang kau ucapkan. Hanya sementara.
Bukan untuk kesenangan tapi untuk mencari ladang ibadah di hadapan Tuhan.
Itulah yang sesungguhnya. Kau sudah berani menentang Tuhan. Inikah yang kau
maksud kekal di mata Tuhan? Aku hanya seorang istri. Memberikan peringatan di
saat suamiku berada di jalan yang salah. Tapi, tindakanmu, kaulah yang
menentukan. Aku juga tidak tega melihatmu menderita. Tersakiti karena ulahmu
sendiri. (MENITIKKAN AIR MATA SEMBARI TETAP MEBERSIHKAN LUKA SUAMINYA). Kau
tahu kekurangan apa yang aku maksud? Suara – suara mungil yang mungkin bisa
menjadi pengingat terakhirmu disaat kau melakukan kesalahan. Aku hanya ingin
yang terbaik. Itu saja. Harta dan tahta itu tidak penting. Mati dalam kedamaian
dan bersama orang yang kucintai pun sudah membukakan mataku akan surga yang
begitu indah.
PRIA : Maafkan aku.
WANITA : Sampai mati pun, maafku selalu
menyertaimu. Tidak ada sama sekali dendam yang terlintas dalam benakku.
PRIA : Ini semua salahku.
WANITA : Ini salahku juga. Tidak bisa
mengingatkanmu. Bersimpuhlah dihadapan Tuhan. Biarkan maafmu kusampaikan kepada
orang – orang yang kau sakiti. Karena aku tahu, mereka akan mencercamu dan
menghinamu. Memohon maaflah kepada Tuhan. Jalan Tuhan lebih cerah.
PRIA : Terima kasih Tuhan kau
berikan aku istri sepertinya. Kesalahanku tidak bisa terbayar oleh materi.
Dosaku pun sudah melebihi jutaan bintang dilangit. Kesombonganku pun melebihi
luas lautan di bumi. Terima kasih kau memberikan matahari ini untukku dimana
sinarnya bisa menutupi bintang itu dan membantu menguapkan air di lautan walau
hanya sebentar. Setidaknya dia berarti untuk menghilangkan sedikit saja
dosa-dosaku Tuhan. Ampuni aku. Makhluk sempurna ciptaanmu namun tak sesempurna
Engkau. Bukakanlah jalanku… (MENGGENGGAM TANGAN ISTRINYA)
WANITA : Begitu lebih baik. Kau sudah
berusaha untuk meminta. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Tapi Tuhan
tidak akan pernah datang dan pergi. Dia selalu ada. Selalu….
WANITA
ITU MEREBAHKAN KEPALA SUAMINYA DI KURSI. WANITA ITU MENGHAMPIRI SINGGASANA
BELUDRU YANG TERJATUH. DIA MENGHANCURKAN SINGGASANA BELUDRU ITU.
LAYAR
MENUTUP.
Naskah ini pernah dibuat untuk Teater 193
Asma Oetari
No comments:
Post a Comment