Wednesday, February 24, 2021

KITA

 

(FADE IN) TAMPAK SEPASANG SUAMI ISTRI SEDANG DUDUK DI AMBEN. SANG ISTRI SEDANG MEMOTONG KANGKUNG SEDANGKAN SANG SUAMI SEDANG ASYIK TERTIDUR PULAS DI AMBEN. TERDENGAR SUARA RADIO, LALU SANG ISTRI MEMPERBESAR VOLUME RADIO TERSEBUT.

RADIO         : berdasarkan hasil pemilu 1997, Kanjeng Gusti kembali menjabat sebagai Presiden. Setelah banyak sekali konflik besar dan prestasi yang melanda negeri ini selama beliau menjabat sebagai presiden. Namun, apakah konflik itu akan bertambah dan memuncak? dan apakah prestasi akan membanjiri negeri ini untuk kesekian kalinya? Jangan kemana-mana tetaplah bersama kami, 12.1 FM.

ARIYANTI   : Menang lagi

TANDJUNG : Maksudmu? (SALING TATAP)

ARIYANTI   : Banyak sekali ya, yang mendukung Kanjeng mble’eh itu. Tapi, Aku tahu itu hanya  scenario. Scenario yang direkayasa supaya dia memanfaatkan negeri ini, dengar ya, walaupun aku Cuma tamatan SMA, aku paham betul tentang scenario begitu. Kan aku dulu pernah ikutan sandiwara di sekolah.

TANDJUNG : jangan menuduh orang sembarangan. (MEMBENARKAN SARUNGNYA)

ARIYANTI   : sudah jelas, mereka semua memanfaatkan negeri ini. kita lihat saja nanti. Pasti semua akan akan ketahuan belangnya. Pemimpin sarap  (BERDIRI, KEMUDIAN MEMBERESKAN MAKANAN YANG AKAN DIJUAL DAN MENARUHNYA DI WARUNG)

TANDJUNG : Huss! Bu, Jangan ikut-ikutan seperti para aktivis yang kontra dengan beliau. Dengar ya bu, Mereka itu orang-orang yang tidak tahu malu. Masa ibu tidak merasa, Kanjeng Gusti itu sudah memberikan yang terbaik untuk negeri ini. Jangan seenaknya saja bilang Kanjeng Gusti orang sarap. Ibu tidak tahu berterima kasih. Betapa sulitnya Kanjeng Gusti membangun ini semua, dengan bersusah payah pula.

ARIYANTI   : Bapak kok jadi belain Kanjeng mble’eh. Emangnya bapak tahu apa?

TANDJUNG : Ya tahu lah! Memangnya ibu tidak sadar kalau dia baik?

ARIYANTI   : tidak. Mana buktinya?

TANDJUNG : Buktinya? Nih ya, sebelum pemilu, semua warga di sini disuruh ngumpul di Balai Desa, disuruh pak Kades. Pak kades di suruh sama anggota partai Sentosa. Partai punyanya Kanjeng Gusti itu loh. Nah, Kita semua dikasih duit. Baikkan? 

ARIYANTI   : Disogok itu namanya!

TANDJUNG : Ya bukanlah. Masa nyogok pake lewat Pak Kades. Mendingan, langsung aja ke warganya. Ribet bener!

ARIYANTI   : Terserah bapak.

(OS) DUA ORANG WANITA YANG SEDANG BERTENGKAR

DARSIH       : Harusnya sampean bangga dong Kanjeng menang lagi, ya toh?

SURIN          : Cih… ogah! Kau saja sana membanggakan dia!

DARSIH       : wah, Gak tahu malu sampean ya. Yang ngasih sampean beasiswa buat kuliah itu, Kanjeng Gusti. masa sampeam sendiri malah menentang dia.

SURIN          : loh, kok kamu sewot gitu sih? Kalau memang dia salah, masa mau aku belain?

ARIYANTI DAN TANDJUNG SALING TATAP DAN KEMUDIAN MELIHAT KE ARAH SUMBER SUARA BERASAL. MASUK DUA MAHASISWI YANG MASIH MELANJUTKAN PERTENTANGANNYA.

DARSIH       : wah!! bener-bener kamu ya. Kualat kamu.

ARIYANTI   : aduuhh.. ada apa ini? masih pagi sudah ribut-ribut!

SURIN          : nggak, bu. Ini temen saya, Darsih, masa ngotot banget belain Kanjeng Gusti. Udah tahu Kanjeng itu salah. Korupsinya juga gede banget. Masih aja di belain.

DARSIH       : kata siapa korupsi? Termakan infotainment kamu!

TANDJUNG : sstt, sudah – sudah!

DARSIH       : habisnya, Surin gak tahu terima kasih banget sih. Nih, ya Surin, negara kita itu berkembang sangat pesat dari mulai cara bercocok tanam kita yang berubah dari cara konvensional ke cara modern. Harusnya kau patut bangga. Kita mencapai puncak kejayaan dalam bidang pertanian. Kalau zaman dulu bilang, Revolusi Hijau. Nah, ada lagi… negara kita itu pendidikannya juga bagus, beasiswa ngucur terus. Terus kan negara kita juga sudah mampu membuat mobil sendiri, mobil timor. Ya toh? Terus nih ya…

SURIN          : dasar mahasiswi biologi. Terlalu teoritis! (MASUK PRIA AKTIVIS. DIA MEMESAN) Kau tahu Revolusi hijau itu sudah tidak dipakai  lagi. Efek yang ditimbulkan revolusi hijau sungguh sangat merugikan masyarakat karena ekologi dan kelestarian lingkungan tidak diperhatikan, karena pemerintah hanya mementingkan hasil produksi pangan. Selain dampak lingkungan, revolusi hijau juga menyebabkan kesenjangan ekonomi antara petani kaya dan petani yang kurang mampu karena harus membeli pestisida, pupuk buatan dan bibit unggul untuk bercocok tanam. Pemerintah ngawur begitu! Dan juga, Mobil apanya? Kau tahu, mobil kita itu semua mesinnya dari luar negeri sedangkan kita cuma merekonstruksi ulang. Apa yang patut dibanggakan?

DARSIH       :dasar. Mahasiswi hukum!

DJOKO         : itu salah satu permasalahannya. (DJOKO MENGHAMPIRI KEDUA MAHASISWI TERSEBUT) sebenarnya, kami para aktivis sedang mencoba untuk mencari bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Kanjeng Gusti bersalah.

ARIYANTI   : jadi benar kalau Kanjeng mble’eh itu bersalah?

TANDJUNG : ah, tidak mungkin

DJOKO         : Seluruh teman aktivisku  yang lain juga sedang mencari kebenarannya. Bisa kupastikan bukti yang dikumpulkan ini cukup kuat dan bisa dijadikan pegangan kalau Kanjeng Gusti itu memang bersalah. Kalian tahu, dia itu raja KKN. Sebenarnya, banyak di luar sana yang sudah jengah dan tidak betah dengan kondisi ini. Mereka tidak ingin menjadi boneka lagi.

TANDJUNG : kalau buktinya sudah kekumpul? (MASUK WARTAWATI)

DJOKO         : Kami akan melakukan demo besar-besaran untuk menurunkan dia. Semua infotainment dan surat kabar juga sudah memberitakannya.

ARES            : berita apa?

DJOKO         : wah, wartawati ya? Ini, kami para aktivis akan menurunkan Kanjeng kalau bukti-bukti kuat sudah terkumpul.

SURIN          : bagus kalau begitu!

DARSIH       : wes punya teman ternyata. Semakin besar saja kepalamu itu. Cih..

ARES            : memang kedengarannya bagus. Tapi apakah tidak akan berdampak buruk nantinya?

ARIYANTI   : Maksudnya?

ARES            : tidak bisa sembarangan menurunkan pemerintah begitu saja. Perlu waktu untuk melakukan itu. Belum lagi, dimungkinkan akan banyak memakan korban. Bisa terlihat. Kami, pers, tidak bisa berbuat banyak pada masa pemerintahan Kanjeng Gusti. kami dikekang dalam memberitakan kepemerintahan. Mungkin, kalau pers dibebaskan, topeng pemerintah akan terbongkar. Memang, pada masa orde baru Indonesia memang mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, namun tidak merata. Hutang Indonesia tak terhitung banyaknya. Tapi benar yang dikatakan tadi. KKN merajalela

SURIN          : tuh, dengar!  (MENEPUK PUNDAK DARSIH)

DARSIH       : sepertinya, itu hanya akal-akalan kalian saja. Kalian ndak suka dengan pemerintahan Kanjeng karena Kanjeng begitu bisa mengatur pemerintahan kan? Iyo kan

SURIN          : ngawur! Bela saja terus tokoh idolamu itu! Penghianat ulung. Raja KKN, huh  Mengaku demokrasi, tapi memakai monarki. Payah memangnya kita negara Inggris apa?

DARSIH       : Kurang ajar betul bicaramu. Hei! Kau tidak bisa seperti ini kalau tanpa dia. Semua rakyat harusnya tunduk padanya dan bersyukur kalau dia dadi presiden lagi! (MEMALINGKAN WAJAH)

 SURIN         : Memangnya dia raja apa? Raja tikus curut? Kau saja yang tunduk kepada dia

DARSIH       : sampean iki ya! Orang – orang terlalu berfikiran negative. memangnya apa salahnya mengikuti aturan pemerintah sih?

ARIYANTI   : Neng, pemerintahannya udah gak bener?

TANDJUNG : gak bener dari mana? Orang udah sebegitu baiknya kok. Sampe ngasih duit segala.

ARIYANTI   : bicaramu ngaco! Ngocomang kamana karep!

TANDJUNG : kamu yang ngocomang kamana karep!

DJOKO         : sudah.. sudah.. sudah.. (MELERAI)

ARES            : semuanya, berhenti!

SURIN          : heh, Darsih. Kau dikasih apa sih sampe ngebela segitunya?

DARSIH       : memangnya kenapa? Harusnya aku yang nanya karo sampean! Sampean wes diapain sama infotainment sih? kalau sampean gak suka, lebih baik  pindah saja sampean menjadi Warga Negara Asing. Bakar saja  label WNI-mu. Memangnya sampean ini tinggal dimana hah? Hutan? Ngejelek-jelek rumah sendiri

SURIN          : Kau ini pintar atau memang benar-benar oon sih? (MENDEKATI DARSIH)

DARSIH       : apa kau bilang? (MENDEKATI SURIN. MEREKA BERANTEM SATU SAMA LAIN. ARIYANTI, TANDJUNG, ARES, DAN DJOKO BERUSAHA MEMISAHKAN MEREKA. SAMPAI AKHIRNYA DARSIH MENAMPAR SURIN) Plaaakk!! (SEMUA HENING)

SURIN          : Lancang! Aku tidak mau berteman lagi denganmu (NAFASNYA TERSENGGAL-SENGGAL. KEMUDIAN PERGI)

DARSIH       : Yo wes! (PERGI)

ARIYANTI   : jelema lieur. Ngagawekeun wae (MASUK KE RUMAH)

TANDJUNG : (MEMBERESKAN BARANG-BARANG YANG BERJATUHAN) kalau mau berantem tuh jangan di sini. Kajeun tutup wae kitu. Mahasiswa jaman sekarang mah sudah tercemar. Pergaulanna berantem wae. Jadi takut anak saya nantinya kayak gitu. Hiiii … (KELUAR)

DJOKO         : beginilah.. akibat kesalahan seseorang, bisa menjadi bencana yang begitu hebat. Luar biasa! Ini baru sebagian kecil. Belum di luar sana. Lebih parah dari pada ini. (MENIRUKAN GAYA PIDATO) kita sebagai rakyat harus bangga dengan negara sendiri. Pemerintah itu hanya sebagai media. Karena, kita of the people, by the people, for the people. Sekarang terbalik of the government, by the government, for the government jadi apa lagi yang harus dibanggakan? Memang negara ini dulu menjadi negara terkuat di dunia dengan armada laut dan udaranya. Sekarang mana? Hanya cerita. Apa yang patut dibanggakan? Korupsi? Kolusi? Nepotisme? Inflasi yang terus meningkat? Hutang yang kian menumpuk? Bah.. demi badai dan topan, tak mau ku akui  kalau sekarang itu negaraku! Sudi sekali aku menerima semua kenyataan itu. Tapi mau bagimana lagi? Suka gak suka ya makan saja.  Kasihan Negeri ini.. Seperti Intan yang termakan api. (TERTAWA SINIS)

ARES            : Sudahlah. Biarkan saja mengalir apa adanya. Memang masa ini merupakan masa dimana segala sesuatunya harus sesuai dengan kehendak pengusa, bukan kehendak rakyat. Rakyat dipaksa untuk bungkam dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah tanpa dapat melakukan kritik untuk kebijakan yang lebih baik. Kita menentang, kita mati dan mungkin akan selalu berakhir seperti ini…. berakhir dengan Omong Kosong. Percayalah, yang baik akan menang

(FADE OUT)


5 April 2013

Karya : Asma Oetari


No comments:

Post a Comment

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi.  Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...