Wednesday, February 24, 2021

DI SEBUAH KOTA ASING

 


(LAMPU PADAM) TERDENGAR SUARA TEMBAKAN DAN DIIRINGI SUARA-SUARA KAKI SIPIR PENJARA YANG BERLARIAN (LAMPU PERLAHAN MENYALA). TAMPAK TIGA ORANG PRIA MENGGUNAKAN PAKAIAN NARAPIDANA BERLARI KETAKUTAN . SATU ORANG BERLARI TERPINCANG-PINCANG AKIBAT TEMBAKAN DI KAKINYA DAN SISANYA MEMENARIK LENGAN TEMANNYA.

JOE                  : hah.. ini semua gara-gara kau. Kalau kau tidak lamban dalam berlari, maka akibatnya tidak akan seperti ini.

HARRY            : selalu saja kau menyalahkan aku. Kalau bukan aku yang mempunyai ide ini, maka kalian tidak akan keluar semudah itu.

JOE                  : jadi? (MENATAP HARRY DENGAN PANDANGAN SINIS) aku harus memujimu begitu?

WILLIE            : sudah cukup! Apa kalian masih belum menyadari kalau kita dalam kondisi terdesak seperti ini? Bisakah kalian menghentikan pertengkaran kalian sampai kita menemukan tempat untuk berlindung? (WAJAH WILLIE TAMPAK SERIUS)

JOE                  : baiklah…

 

JOE, HARRY, DAN WILLIE MENEMUKAN RUMAH KECIL YANG DIATAS PINTUNYA BERTULISKAN “TILLIE’S BAR” YANG BERARTI RUMAH TERSEBUT DIGUNAKAN JUGA SEBAGAI BAR. BAR TERSEBUT  PELANGGANNYA ADALAH PENDUDUK YANG HAMPIR SEMUANYA BEKERJA SEBAGAI BURUH DAN TUKANG POTONG KAYU. TAMPAK BEBERAPA DARI MEREKA MEMBAWA KAMPAK. JOE, HARRY, DAN WILLIE MASUK KE DALAM RUMAH TERSEBUT SETELAH SEBELUMNYA MEMBALUT KAKI HARRY DENGAN KAIN DAN MENGGANTI BAJU MEREKA DENGAN BAJU BIASA HASIL CURIAN.

HARRY            : Sir, pesan bir 2 botol. (MENGACUNGKAN 2 JARINYA)

JOE                  : sir, mengapa kau buka bar kecil ini ditengah hutan? Bukankah keuntungan di sini tidak melimpah? Lebih baik kau mencari pekerjaan lain yang sangat berguna. Tuhan melahirkan umatnya di dunia ini itu untuk mencari kehidupan yang lebih dari apa yang kita inginkan (LAGAKNYA SEPERTI PENDETA GEREJA YANG TELAH LANJUT USIA) Tuhan, tidak mengajarkan dan tidak ingin melihat umatnya sengsara, paham? Nampaknya kau harus banyak membuka Injil, Sir! (MENGELUARKAN SEBATANG ROKOK)

TILLIE              : nampaknya kau dahulu yang harus membenarkan dirimu telebih dahulu sebelum kau membenarkan aku. (TERSENYUM DINGIN)

HARRY            : Sir, kau punya anak gadis?

TILLIE              : ya, aku punya. Ia masih sangat cantik dan pintar. Sangat penurut. (MENAMPAKKAN SENYUM DINGIN YANG LAIN DARI BIASANYA)

HARRY            : wow, bisa kau kenalkan kepadaku? Aku sangat suka gadiis yang penurut.

TILLIE              : saat ini dia sedang bekerja. Jadi, menurutku kau jangan dulu mengganggunya. (AMARAHNYA MULAI MUNCUL

JOE                  : okey, calm down.

WILLIE            : Joe, kau lihat wanita berambut pirang yang menggunakan baju pelayan yang di depan panggung itu? Kau lihat? Betapa sangat cantiknya ia. (JOE TAK MENDENGARKAN UCAPAN WILLIE) lihat.. lihat.. ia melihat ke arahku. Kau tak melihat ia berpaling ke arahku? Joe? Joe? Joe? (JOE SUDAH TIDAK ADA LAGI DI MEJA BARTENDER, IA SEKARANG BERPINDAH KE TENGAH-TENGAH BAR MULAI BERGABUNG DENGAN PELANGGAN YANG LAINNYA. IA MENUANGKAN MINUMAN BIR ITU KE MULUT PARA PELANGGAN DAN PELANGGAN BERSORAK SORAI)

JOE                  : baiklah tuan-tuan, kami permisi dulu. Semoga hari kalian menyenangkan (MEMBERIKAN SALAM HORMAT)

FRED               : hai, pelayan! (MUNCUL WANITA SEPARUH BAYA TERGOPOH-GOPOH) kau ingin membiarkan pria-pria ini keluar begitu saja? Gembok pintunya!! Cepat!! Hahahaha (WANITA TERSEBUT BERLARI KE ARAH PINTU DAN MENGGEMBOKNYA) kalian kali ini akan bersenang-senang bersama kami. Hahaha

HARRY            : kau tahu, sepertinya ada sesuatu yang kita tidak tahu dari mereka. (BERBISIK KEPADA JOE DAN WILLIE)

WILLIE            : kurasa begitu. Kau tahu cara mereka memperlakukan kita bukan seperti pelanggan, melainkan seperti raja. Aku merasa seperti itu. Apakah ini wajar?

JOE                  : sudahlah, kita nikmati saja pesta ini dan jangan bertele-tele (JOE BERGABUNG DENGAN PARA PELANGGAN)

JOE, HARRY, DAN WILLIE MENGHABISKAN MALAM INI DENGAN BERDANSA, MINUM, DAN BERPESTA. MEREKA SEMUA SEPERTI ORANG GILA YANG TIDAK MEMIKIRKAN APAPUN. YANG MEREKA PIKIRKAN HANYA KESENANGAN. SAMPAI AKHIRNYA, SAAT PAGI SUDAH MULAI TIBA, MEREKA SUDAH BERADA DI KAMAR HOTEL DAN SUDAH NAMPAK SARAPAN BUBUR JAGUNG.

WILLIE            : kau yakin mereka tidak menyembunyikan sesuatu? (WILLIE MENGERENYITKAN KENINGNYA) aduuhh… kepalaku masih pusing.

HARRY            : entahlah, aku merasakan kalau mereka sudah mengetahui kita. AUUCCHH!! (MENURUNKAN KAKINYA DARI TEMPAT TIDUR)

WILLIE            : kenapa Harry? Kakimu masih sakit, ya?

HARRY            : ya, sepertinya aku tidak akan bisa berjalan lama. Entahlah kalau para sipir itu datang. Apakah aku akan lari, diam, atau malah membunuh mereka satu per satu bersama anjing-anjingnya.

WILLIE            : ya aku percaya. Harry, kau lihat pelayan wanita yang cantik? Kau lihat? Menurutku, dia adalah wanita paling cantik. Kalau kau melihatnya, mungkin kau akan mengira itu malaikat. Melihatnya aku seperti merasa di surge.

HARRY            : Hei, sadarlah! Aku tak melihat pelayan cantik di sana. Yang aku lihat hanya pelayan gendut dengan rambut yang sudah beruban. Pelayan yang semalam menggembok kita di bar. (MENGGERUTU) mau-maunya dia disuruh para pelanggan bodoh!

WILLIE            : pasti kau tak akan percaya Harry. Nanti aku tunjukkan kepadamu. Harry, lihat Joe! Sejak kapan terakhir kali dia tertidur pulas seperti itu. Hahaha

HARRY            : ya, tapi sayang dia belum menyadari tingkah laku orang-orang di desa ini. Sepertinya keberadaan kita sudah tercium. Posisi kita sudah diketahui. Lihat perilaku mereka kepada kita. Seakan-akan menahan kita untuk pergi.

WILLIE            : lalu?

HARRY            : bangunkan Joe! (WILLIE MEMBANGUNKAN JOE)

JOE                  : huaa!  (MENGUAP) kalian ini mengganggu saja. Ada apa?

HARRY            : sepertinya kita harus pergi! Untuk kali ini, kau ikuti saja perintahku dan dengarkan perintahku, ya? (HARRY KELUAR KAMAR)

JOE                  : hah? (WAJAHNYA TERLIHAT BINGUNG)

WILLIE            : kali ini kau ikuti apa yang dikatakannya saja Joe. (WILLIE MENGIKUTI HARRY KELUAR DARI KAMAR)  

 

HARRY, JOE, DAN WILLIE  PERGI KE TEMPAT BAR YANG TADI MALAM MEREKA KUNJUNGI.

JOE                  : untuk apa kita kesini? Kita di undang berpesta lagi?

WILLIE            : Joe, nampaknya kita dijebak. Mereka sudah tahu siapa kita.

JOE                  : apa? (HARRY MENGETUK PINTU BAR)

HARRY            : permisi..

TILLIE              : ya… oh, kau! Ayo masuk.

HARRY            : baiklah, kami kesini mampir untuk makan bubur jagung. Bubur jagung yang dihotel rasanya tidak sedap.

TILLIE              : beruntung, aku sedang memasak bubur jagung. Ya, bubur jagung merupakan makanan pokok kami. (KEMBALI KE DAPUR DAN MULAI MENUANGKAN SOUP)

WILLIE            : sepertinya aku kenal foto gadis ini (MELIHAT FOTO YANG TERLETAK DI UJUNG MEJA BARTENDER)

TILLIE              : oh, itu putriku. Ia bekerja di barku sebagai pelayan. Akhir-akhir ini dia jarang keluar, sepertinya sedang tidak enak badan.

JOE                  : (BERBISIK) nampaknya aku sudah tak tahan dengan ini. Kita harus tanyakan, Will. Mereka semua penipu (JOE MEREMAS TANGANNYA)

WILLIE            : sabar Joe.

HARRY            : kau sudah tahu siapa kami kan? Kau sudah tahu siapa kami sebenarnya? (HARRY MEMULAI SEMUANYA DAN MEMBUAT SEMUA YANG BERADA DI TEMPAT ITU TERSONTAK KAGET)

TILLIE              : apa maksud kalian?

HARRY            : kau tidak usah bohong. Kau tahu kalau kami adalah pembunuh kan? Yang baru saja lepas dari penjara. Dan kini kau menyangkal kalau kau tidak tahu kami? Kami tahu karena kami merasa anaeh dengan sikap kalian yang memperlakukan kami seperti raja agar kami tertahan di tempat ini. Iya kan?

WILLIE            : Harry tahan emosimu!

TILLIE              : kau jangan ngaco

WILLIE            : Harry, kita hanya mengecek kalau semua ini itu benar atau tidak! Harry!! (HARRY MENGAMBIL TONGKAT TUMPUL DAN MEMUKUL KEPALA TILLIE DENGAN TONGKAT> KEMUDIAN MENANCAPKAN UJUNG TONGKAT ITU KE DAHINYA) Harry!! Kau gegabah!!

JOE                  : ayo kita pergi. Will.

WILLIE            : Harry, kau biadab! (BEL BERBUNYI) biar aku yang membukanya (WILLIE BERUSAHA TENANG KEMBALI). Ya, dengan rumah Tillie, ada apa?

PAK POS        : ada paket (PAK POS MENGELUARKAN SURAT YANG HARUS DITANDA TANGANI)

WILLIE            : wah, kebetulan saya hanya kerabat yang sedang berkunjung. Mungkin lain kali saja ya.

PAK POS        : tidak bisa ini harus segera diambil sekarang. (NADANYA BERUBAH MENJADI TINGGI)

HARRY            : ia sedang di kamar mandi.

WILLIE            : dia sedang tidak ada di rumah.

HARRY            : dia sedang berada di kamar mandi (MENARIK PAK POS TERSEBUT MASUK DAN MULAI MEMBUNUHNYA SAMA PERSIS SEPERTI PEMBUNUHAN YANG DILAKUKAN KEPADA TILLIE)

WILLIE            : HARRY!!! (KELUAR LAURA, ANAK TILLIE YANG MENJADI PELAYAN)

JOE                  : jadi dia??

WILLIE            : kau??

HARRY            : kau lihat ayahmu sekarang! Hahaha

WILLIE            : (MENGELUARKAN PISTOL DI BALIK BAJUNYA DAN MULAI MENEMBAK KEPALA HARRY) mati kau!

JOE                  : Will, apa-apaan kau ini! Bagaimana kita bilang kepada polisi? Aku tidak mau ditahan polisi 2 kali, will.

WILLIE            : gampang saja, kita bilang kalau Harry membunuh orang-orang disini dengan cara membabi buta. Daripada dia makin banyak membunuh orang, kita bunuh saja dia. Selesai (NAFASNYA TERENGAH-ENGAH KARENA PANIK). Joe, kau membantuku kan?

JOE                  : aku hanya ingin bertahan hidup (SENYUMNYA KECUT)

WILLIE            : baiklah terserah apa tujuanmu.

LAURA           : aku ikut kalian!

WILLIE            : apa?

LAURA           : ya, aku ikut kalian. Aku akan berterima kasih kepada kalian karena telah membunuh ayahku. Ayahku telah membunuh ibuku. Aku tak tahu bagaimana cara membalas kematian ibuku. Aku hanya mengikuti seluruh perintah ayah dan aku hany berdoa kepada Tuhan. Semoga Tuhan mengizinkan aku membalas kejahatan ayahky.

JOE                  : sudahlah, kau tahu, kami juga pembunuh. Tapi, kami memutuskan semua hal itu.

WILLIE            : sekarang kau mau kemana, Laura?

LAURA           : aku siap dipinang kau. (WILLIE TERSENYUM BAHAGIA)

 

FADE OUT

5 July 2012

Cerpen : the two strenger : TAMIM ANSARY

Dibuat saat sedang proses.

No comments:

Post a Comment

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi.  Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...