Memilih berhenti bukan takdir mudah yang akan kubuat. Banyak hal yang ingin ku tinggalkan. Melakukan semuanya sendiri dirasa lebih baik daripada bertemu banyak orang dan melakukan kesalahan setiap waktunya.
Kekesalan, iri hati, dendam, amarah yang kutimbun selama ini mulai perlahan keluar. Seperti nanah yang tertahan dalam luka yang kering luarnya saja. Saat nanah itu keluar, aromanya tak akan disukai banyak orang. Terlalu bau untuk didekati. Bahkan untuk disentuh pun akan merasa jijik.
Tidak bertemu banyak orang dan hidup dalam kesendirian akan menjadi hadian yang indah.
Pilihanku ini akan disudutkan oleh orang banyak. Beranggapan bahwa ini penyakit hati dan memojokanku dengan umpatan umpatan seakan aku hina dan tak pantas.
Mereka mungkin tak akan pernah tahu, perjuanganku melawan sosok yang mereka sebut penyakit hati.
Butuh hitungan tahun untuk membuat lukanya nampak kering. Hanya nampak di luar bahwa semua baik baik saja.
Saat yang lain maju satu langkah dan berlari, tapi diriku hanya setengah langkah pun harus menahan duri yang menancap pada kaki ini untuk berjalan. Mereka di luar sana bilang, tentang bacotan "rezeki orang yang berbeda beda", "semua akan indah pada waktunya", "akan ada pelangi setelah hujan deras". Bacotan omong kosong mereka hanya akan membuat orang yang mereka nasehati itu jatuh kedalam lubang tak berdasar. Berharap saat jatuh akan menemukan pijakan untuk mereka bisa berdiri dan kembali mendaki ke puncak lubang untuk udara segar. Walaupun semua itu akan berujung sia sia. Tak ada cahaya di atas sana. Tak ada yang menolong di atas sana. Kamu mati pun tak akan ada siapa pun yang mau tahu. Tak akan mau mereka bertemu daging yang akan membusuk dan digerogoti makluk pengurai.
Hanya aku yang bisa menyelamatkan diriku sendiri.
Hanya aku yang bisa menyemangati diriku sendiri.
Hanya aku yang bisa menentukan diriku sendiri.
Hanya aku yang bisa menguasai diriku sendiri.
Hanya aku yang bisa menjatuhi diriku sendiri.
Berbisiklah sepuasnya dan sesuka hatimu. Biarkan mereka mendengar sayu langkah perjalanan dalam setiap ceritamu. Karena saat kau berteriak, mereka hanya akan berpaling dan tidak akan pernah mau mendekat untuk mendengarkan. Berbisiklah sepuas dan sesuka hatimu. Sampai kau menemukan ia yang mau mendengarkan kesedihan dalam gelak tawamu. Berbisiklah sepuas dan sesuka hatimu. Sampai bisikanmu terus berbisik walau mulutmu tidak pernah berucap kembali.
Wednesday, April 15, 2020
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga
Selamat siang, Asmi. Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...
-
Aku tahu ada hati yang kau jaga Dan ada hati yang berharap Sedangkan hatiku bukan apa apa Tapi bisakah aku berziarah waktu Untuk hatiku ...
-
Postingan lama. Kayaknya ini yang terakhir bantu mereka belajar tentang teater. Walaupun pesertanya gak menang, tapi ada kebangg...
-
Ribuan tangan menyentuhku Memberikanku selembar kertas putih Memberikan untaian doa suci Tangis, canda, tawa, marah Semua dilimp...
No comments:
Post a Comment