Suara suara itu muncul lagi. Samar samar. Tak jelas apa yang mereka bicarakan. Suara itu muncul ketika alam mimpi mulai terbuka. Menuju lelapku, semua suara itu mengganggu. Sesuatu yang kubenci. Suara manusia.
Dari bisikannya bisa kulihat kalau semua tidak menyukaiku. Mengutuk semaunya mereka dengan umpatan bernada lemah.
Saat menutup telinga, suara itu semakin lantang dan ucapannya berantakan. Setiap malamnya aku terjaga. Tidak berani menutup mata sampai matahari mulai nampak.
Berbisiklah sepuasnya dan sesuka hatimu. Biarkan mereka mendengar sayu langkah perjalanan dalam setiap ceritamu. Karena saat kau berteriak, mereka hanya akan berpaling dan tidak akan pernah mau mendekat untuk mendengarkan. Berbisiklah sepuas dan sesuka hatimu. Sampai kau menemukan ia yang mau mendengarkan kesedihan dalam gelak tawamu. Berbisiklah sepuas dan sesuka hatimu. Sampai bisikanmu terus berbisik walau mulutmu tidak pernah berucap kembali.
Thursday, April 16, 2020
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga
Selamat siang, Asmi. Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...
-
Aku tahu ada hati yang kau jaga Dan ada hati yang berharap Sedangkan hatiku bukan apa apa Tapi bisakah aku berziarah waktu Untuk hatiku ...
-
Postingan lama. Kayaknya ini yang terakhir bantu mereka belajar tentang teater. Walaupun pesertanya gak menang, tapi ada kebangg...
-
Ribuan tangan menyentuhku Memberikanku selembar kertas putih Memberikan untaian doa suci Tangis, canda, tawa, marah Semua dilimp...
No comments:
Post a Comment