Semalam, aku lihat seorang bapak tua di pojok Alfamart. Badannya tidak terlalu ringkih. Menggunakan setelan jaket biru kusam dan celana olah raga. Ia tidak seperti telah melakukan aktivitas olah raga. Tidak pula terlihat butiran keringat yang menetes ataupun bahasa tubuh yang mengatakan kalau ia lelah.
Pandangannya lurus ke depan. Wajahnya samar karena terhalang topi usang yang ia pakai. Lampu Alfamart pun tak bisa menunjukan wajahnya dengan jelas. Kuperhatikan, bapak itu tidak bergerak ataupun berpindah satu inci pun. Kulihat, ada sebatang rokok di sela-sela jarinya. Tidak menyala.
Semakin kuperhatikan lagi, sepertinya ia tenggelam dalam lamunan. Entah apa yang dia pikirkan. di ujung mata kanannya, kurasa air mata mulai muncul. Aku yakin itu air mata karena semakin lama, air mata itu semakin deras. Bapak tua itu tidak menundukkan kepalanya. Pandangannya tetap lurus.
Seakan aku bisa melihat proyeksi nyata melalui matanya. Tak bisa kuungkapkan, tapi aku yakin. Bapak tua itu telah melalui banyak hal yang membuat ia harus mengeluarkan air matanya. Ketidaksanggupan dirinya dalam menerima kepedihan, amarah, atau bahkan kebahagiaan. Mungkin. Aku hanya menerka.
Aku hanya bisa larut dalam pandangannya yang sulit kutebak.
Karanggantungan, 22 Januari 2021
No comments:
Post a Comment