Wednesday, February 24, 2021

Aku, Sinah...

 Puisi ini pernah diikutsertakan untuk Puisi Essay Denny JA

26 Desember 2014

- Asma Oetari -


Aku, Sinah...

/1/

Awal 1993,

1993,

Ya... 1993,

Satu... sembilan... sembilan... tiga...

 

Awal 1993,

Surat edaran itu keluar juga

Surat yang bisa menyejahterakan para buruh

Walau hanya sedikit

Lima ratus lima puluh rupiah

 

Angka yang kecil dan tidak berarti bagi kaum bourgois Indonesia

Namun bagi kami,

Kaum buruh...

Itu adalah serpihan emas untuk menyuapi si mungil

 

Uang kencring itu mampu menghidupi kami

Membeli seluruh kebutuhan hidup kami

Membeli seluruh kebutuhan si mungil

Dan kami rasa mampu menyekolahkan si mungil

 

Kebahagiaan membuncah ketika surat edaran itu berkumandang

Seluruh buruh di Jawa Timur pasti mengucapkan syukur

Karena sedikit memberi kelayakan untuk kami,

Kaum buruh...

 

Kawan-kawan buruhku tak bosan menyerukan surat edaran itu

Pembicaraannya dibalut senyum, haru, bangga, dan sebagainya

Semua itu menyelimuti wajah mereka

Sangat indah

/2/

Waktu berjalan sangat cepat

Surat edaran itu belum ada realisasinya

Wajah-wajah yang cerah berubah menjadi kelam

Takut akan adanya keterpurukan

 

Kekhawatiranku kian menumpuk

Berusaha kupandangi tatapan mereka

Berusaha menghibur mereka, “mungkin nanti..”

Walaupun dari hati kecilku, aku pun kesal

 

Di bulan Mei, marah kian menjadi

Kekesalan yang ditimbun akhirnya meledak

Ternyata dugaan kami semua benar

Tak ada realisasi kenaikan upah dari tempat kami bekerja

 

Bersama, kami menyusun rencana untuk melakukan unjuk rasa

2 Mei 1993

Hari dimana kami menyusun rencana itu

Tanpa kami sadari, rencana itu berbuah simalakama

 

Aku turut serta dalam unjuk rasa tersebut

Tanpa rasa takut, ku menyingsingkan lengan baju

Dan hanya dengan modal keberanian yang gigih

Aku tak pernah menyangka sama sekali, ini adalah awal aku akan pergi

/3/

Rencana itu sudah dibuat dengan matang

Aku siap melakukan semuanya semua yang diguratkan

Aku meminta ridho-Nya

kuhembuskan nafas dalam-dalam

 

3 Mei 1993...

Ajakan demi ajakan bagi mereka yang senasib mulai deras

Sudah nampak seperti hujan, hujan darahkah? Atau hujan tawakah?

Kobaran semangat terpampang nyata di raut wajah mereka

 

Di hari itu,

Tak hanya kami para buruh yang berseragam buruh

Banyak pria bertubuh tegap berseragam loreng juga berkerumun

Sepertinya... mereka “menertibkan” kami

 

Hah... aku harus tetap di jalur optimis

Tergumam beberapa saat,

“Unjuk rasa yang mungkin membuahkan hasil yang baik

Hasil yang sepadan dengan kerja keras kami”

 

Terlintas gambaran wajah nenek dan bibi

Mereka telah mengurus Sinah kecil

Akan kuperjuangkan kencring 550 rupiah ini

Itulah api semangatku.. tak akan pernah padam..

 

Pikiranku terpusat lagi pada kerumunan teman-temanku

Dengan sigap aku berangkat ke kantor Depnaker

Mencari data kenaikan upah

Data terkuat untuk para buruh

/4/

4 Mei 1993

Tepat pukul 07.00 WIB

Tuntutan pun akhirnya tersuarakan

Hanya dua belas tuntutan yang kami tuntut

 

Ya... hanya dua belas

Tak banyak

Jumlah tuntutan yang sangat sedikit

Dan menurutku, cukup memakmurkan kami

Para buruh...

 

Kami berunjuk rasa dengan cara yang selayaknya

Tapi kami tak mendapat perlakuan baik pula dari mereka

Kami memaksa masuk untuk membicarakan tuntutan itu

Namun, yang kami terima hanya kibasan tongkat

 

Seperti itukah perlakuan yang mereka berikan?

Pantaskah?

Kami jelas-jelas menuntut hak yang memang milik kami

Hak kami sepenuhnya

 

Data dari Depnaker pun sudah di tangan

Mampukah mereka mengelak?

Mengelak memberikan hak kami

Dan mengelak berhadapan dengan kami

 

Kami tetap memaksa masuk

Dengan bukti yang kami punya tentunya

Tapi perlakuan mereka betul-betul kurang ajar

Mereka menyobek spanduk kami dan menyebut kami adalah PKI

 

Akhirnya, usaha kami memaksa masuk terkabulkan

Aku meminta bertemu dengan atasan perusahaan

Kawan-kawan buruhku tak diperbolehkan masuk

Hanya sebagian yang masuk

 

Aku dan beberapa kawan mewakili seluruh kawan-kawan buruh

Berjalan penuh keberanian

Aku bertemu dengan mereka, para petinggi perusahaan

Aku mulai menyuarakan hak yang kami minta dengan lantang

 

Beberapa permintaan kulayangkan

Yaitu...

Tak ada yang dirugikan dari pihak buruh

Kalau tidak, meja hijau akan bersuara

Dan mereka menyetujuinya

 

/5/

Tak disangka,

Keberanian para buruh untuk mengambil haknya semakin kuat

Mereka semakin berani

Semakin kuat

 

Tapi kurasa,

Keberanian itu akan luluh di hari ini

5 Mei 1993

Luluhnya semangat buruh

 

Miris aku melihatnya

Tiga belas orang kawanku dipanggil orang berbaju loreng

Mereka yang “menertibkan” kami kemarin

Di panggil tanpa alasan kuat

 

Ingin rasanya mencaci mereka yang mengambil kawanku

Meludahi mereka

Menginjak-injak mereka

Hanya bayangan, kenyataanya aku hanya meremas tanganku

 

Aku ditemani kawan buruhku

Hendak bertemu mereka

Mereka yang di ambil

Oleh mereka yang sok bertanggung jawab

 

Sabar...

Sabar...

Sabar Sinah...

Gumam hati kecilku

 

Kujelaskan secara baik-baik kepada bapak berbaju loreng itu

”mengapa kawan-kawanku ditawan?

Bukankah perusahaan sudah berjanji tidak akan mem-PHK buruh?

Lalu kenapa mereka dibawa kemari?”

 

Banyak pertanyaan dalam benakku

Ada apa ini?

Permainan apa yang sedang dimainkan?

Mengapa mengarah ke jenjang yang serius?

 

Kurasa...

Kami terjebak dalam permainan kotor

Dan kurasa... mereka berusaha mematikan pion kami

Pion buruh..

 

Dan...

Benar saja

Hati kecilku benar

Hari ini aku hilang

 

Aku dibawa orang-orang tak dikenal

Ada apa ini?

Apa semua ini?

Aku tak faham dengan semua kejadian ini

Jeritanku...

Permintaan tolongku...

Raungan tangisanku...

Semuanya tak berguna, PERCUMA

 

Hampir tiga hari aku menghilang

Tak membantu kawan-kawan buruhku berunjuk rasa

Tak tahu kabar mereka

Tak tahu kontribusi unjuk rasa kami

 

Tapi semua hilang

HILANG

HILANG

HILANG

 

Aku HILANG

Menjadi jiwa tak bernyawa

Menjadi raga tak berjiwa

Menjadi buruh tak berseru

/6/

8 Mei 1993

Mentari mulai nampak ke permukaan

Sinarnya menembus embun-embun pagi

Cekikikan burung pun mulai terdengar

 

Segerombolan bocah cilik mulai tampak di pelataran rumah

Mengeluarkan dolanan mereka

Orang tua mereka sibuk dengan aktivitas mereka

Sangat mengharukan

 

Aku masih bisa mendengar mereka

Aku masih bisa merasakan

Terdiam sesaat mendengar mereka

Batinku terasa pedih...

 

Terlalu lama hanyut dalam rasa haru

Buyar pikiranku saat seorang anak berteriak

“bu!! Iki sopo bu? Bu!! Ene mayat bu”

Dalam sekejap kerumunan orang menghampiri mayat tersebut

 

Aku ikut melihatnya

Itu aku!
Miris hati ini memandang mayatku sendiri

Terbujur kaku, sangat tak wajar

Fisikku hancur lebur

Bukan mayat dengan tubuh sempurna

Ingin rasanya berteriak

Teriak sangat kencang

 

“jadi ini yang mereka lakukan?

Membuat tubuhku hancur!

MEREKA BENAR-BENAR BIADAB

Mereka sungguh melebihi IBLIS

 

IBLIS?

Bahkan iblis pun mungkin tak sudi mengakui mereka sebagai kawan


Sungguh...

Kenapa mereka melakukan ini kepadaku?

Aku bukan binatang

Aku bukan wanita jalang

 

Kesalahanku apa?

Banyak sekali penderitaanku, Tuhan?

Kutanya kepada-Mu!

Apa salahku?

 

Inikah balasan-Mu atas pengorbananku?

Selama dua puluh empat tahun aku selalu sendiri

Tak mau menyusahkan siapa pun

Apalagi nenekku”

 

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran pria berpakaian coklat

Berusaha mengenali mayatku

Dan ternyata gagal

Akhirnya, membawa mayatku ke dalam mobil jenazah

 

/7/

Belum usai penderitaanku

Tubuh dinginku mulai di jamah beberapa orang berjas putih

Diperhatikannya tubuhku

Dicatatnya apa yang dilihatnya itu

 

Apa yang mereka tulis?

Berani sekali mereka?

Kenapa tak kau kebumikan saja aku?

Aku tak sanggup melihat mayatku berlama-lama dikebumikan

 

HEI!! HENTIKAN!!

Aku sudah menjadi bangkai

Tak usah kalian lihat dan catat lagi diriku itu

Apa kalian kurang puas melihat kehancurleburan tubuhku itu?

 

Berkali-kali aku peringatkan mereka

Namun hasilnya nihil

Mereka tak mendengar

Usaha yang sia-sia

 

Aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi

Aku tak bisa menuntut seperti kemarin

Menyuarakan ketidaksukaanku

Menyuarakan hak diriku dan kawan-kawanku

/8/

Setelah aku tiada

Semua semrawut

Kawan-kawanku dituduh membunuhku

Kawan-kawanku tersiksa

 

Tak hentinya aku mengeluarkan air mata

Miris aku melihat mereka

Tersayat-sayat hatiku

Perih rasanya

 

Mereka dipaksa mengaku yang bukan sebenarnya

Jiwa mereka kesakitan

Bukan...

Bukan mereka...

 

Ingin rasanya aku bangkit dari kuburku

Mengatakan semuanya

Kejujuran

Kenyataan

 

Kalaupun aku diberi kesempatan itu,

Akan Kuutarakan...

“bukan mereka yang melakukan!

IBLIS itu yang melakukannya

Jangan kalian bertindak semena-mena kepada kawanku

 

Kalian tahu?

Ini semua permainan IBLIS itu!

Mereka yang membinasakanku layaknya binatang

Mereka yang menghilangkan semua anganku

 

Mereka tak tahu

Tak pernah tahu

Betapa beratnya hidup yang kualami

Dan mereka semua melengkapi itu

IBLIS keparat itu yang berdusta

Buruh...

Bukanlah pekerjaan hina

Bukan juga pekerjaan yang harus dihina

 

Dari surya belum nampak

Sampai surya terbenam

Kami tetap teguh dengan pekerjaan kami

Kami yakin kalau pekerjaan kami itu mulia

 

Istirahat yang terbatas

Pergerakan tubuh yang terbatas

Percakapan yang terbatas

Dan konsentrasi yang totalitas

 

Tak pernah sekalipun hal itu melunturkan semangat kami

Tak pernah kami mengeluh

Karena kami menyadari

Itu salah satu kemampuan yang bisa diandalkan

Untuk menghidupi kami dan keluarga kami

 

Kami tak pernah malu

Kami tak merasa risih

Sedetik pun

Sekali pun

 

Namun apa bayaran dari dedikasi kami ini?

Kami bukan manusia berjiwa robot

Manusia ya manusia

Butuh hidup

 

Kencring 550 rupiah bukanlah angka besar

Memangnya tak bisakah kencring itu diberikan kepada kami?

Kencring itu berarti

Bagi kami dan keluarga kami

 

Hanya kencring itu yang kami tuntut

Hanya kesejahteraan buruh yang kami tuntut

Itu bukanlah hal yang rumit

Itu bukanlah tuntutan yang sangat berat”

 

Kata-kata itu akan keluar kalau aku hidup kembali

Dan nyatanya...

Aku tidak lagi berpijak di tanah-Nya

Ragaku sudah dimakan belatung-belatung lapar

 

 

/9/

Kematianku menjadi kontroversi

Layaknya selebritis papan atas

Banyak yang mengangkat lagi kasusku

Cih... sok pahlawan

 

Ya, awalnya aku percaya kalau mereka akan mengungkap kebenaran

Nyatanya...

Tidak sama sekali

Hanya janji belaka

 

Tak ada gunanya mereka tampil ke depan

Mengeluarkan argumentasi-argumentasi mengenai aku

Mengeluarkan data forensik

Yang belum tentu kebenarannya

 

Buat apa mereka bercicit cuit lagi?

Semua datanya palsu!

Tragediku sudah ditutup

Dengan sangat bisu

 

Kalian hanya mencari kucing dalam ruang kosong

Tak ada gunanya

Nampak seperti orang bodoh

Mengharapkan dapat yang sudah tak ada

 

Awalnya, aku terima liang lahatku dibuka

Dibongkar

Dan mayatku ditarik kembali dari tempat sunyi itu

Karena aku paham, mereka membutuhkan itu

Walaupun hati kecilku tak terima

 

Namun, mereka kurang puas dengan yang pertama

Mayatku ditarik lagi untuk yang kedua kalinya

Aku mulai risih

Amarahku mulai memuncak

 

Dan sekarang mereka mengambil mayatku

Untuk ketiga kalinya

Amarahku membludak

Sudah tak karuan

 

“kalian pikir aku ini sampah daur ulang?

Diambil kemudian dikubur lagi

Diambil lalu dikubur lagi

Diambil dan dikubur lagi

 

Kurang puas kalian mempermainkan mayatku

Memang awalnya aku mengizinkan mayatku diambil

Dengan harapan kalian bisa menguak tragediku

Tapi ini sudah ketiga kalinya kalian membongkar

 

Mana kebenaran yang akan kalian buktikan?

Terkuakkah?

Tidak kan?

Lalu apa gunanya kalian membongkar makamku”

 

Umpatan itu muncul lagi

Namun tetap saja,

Tak terdengar

Hanya kata-kata mati

 

Tangisanku menderu kencang

Tak bisa kutahan

Tak mampu kumenahan

Sangat tak bisa

 

“Ya... walaupun aku hanya wanita muda

Wanita berusia 24 tahun

Yang berasal dari Nganjuk

Desa Nglundo

 

Wanita yang masih banyak angan

Wanita buruh

Tapi aku tetap manusia yang tidak menginginkan kebatilan

Cukup! Itu hanya terjadi kepadaku saja

 

Biarlah namaku menjadi kenangan

Namun jangan biarkan semangatku binasa

Jangan biarkan para buruh terinjak

Pada kebatilan yang tak  terungkap

 

Terima kasih...

Untuk orang-orang yang masih sayang kepadaku

Untuk mereka yang tetap di jalan kebenaran

Untuk mereka yang tetap mengobarkan semangat buruh

 

HIDUP BURUH!!!
HIDUP BURUH!!!
HIDUP BURUH!!!

 

No comments:

Post a Comment

Catatan Hari Ketiga? Sepertinya Catatan Ketiga

 Selamat siang, Asmi.  Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah membaik? atau masih sama seperti kemarin? Hai, senang ada yang bertanya. Sejujurnya...