Puisi ini pernah diikutsertakan untuk Puisi Essay Denny JA
26 Desember 2014
- Asma Oetari -
Aku, Sinah...
/1/
Awal 1993,
1993,
Ya... 1993,
Satu... sembilan... sembilan... tiga...
Awal 1993,
Surat edaran itu keluar juga
Surat yang bisa menyejahterakan para buruh
Walau hanya sedikit
Lima ratus lima puluh rupiah
Angka yang kecil dan tidak berarti bagi kaum bourgois
Indonesia
Namun bagi kami,
Kaum buruh...
Itu adalah serpihan emas untuk menyuapi si mungil
Uang kencring itu mampu menghidupi kami
Membeli seluruh kebutuhan hidup kami
Membeli seluruh kebutuhan si mungil
Dan kami rasa mampu menyekolahkan si mungil
Kebahagiaan membuncah ketika surat edaran itu berkumandang
Seluruh buruh di Jawa Timur pasti mengucapkan syukur
Karena sedikit memberi kelayakan untuk kami,
Kaum buruh...
Kawan-kawan buruhku tak bosan menyerukan surat edaran itu
Pembicaraannya dibalut senyum, haru, bangga, dan sebagainya
Semua itu menyelimuti wajah mereka
Sangat indah
/2/
Waktu berjalan sangat cepat
Surat edaran itu belum ada realisasinya
Wajah-wajah yang cerah berubah menjadi kelam
Takut akan adanya keterpurukan
Kekhawatiranku
kian menumpuk
Berusaha kupandangi
tatapan mereka
Berusaha menghibur mereka, “mungkin nanti..”
Walaupun dari hati kecilku, aku pun kesal
Di bulan Mei, marah kian menjadi
Kekesalan yang ditimbun akhirnya meledak
Ternyata dugaan kami semua benar
Tak ada realisasi kenaikan upah dari tempat kami bekerja
Bersama, kami menyusun rencana untuk melakukan unjuk rasa
2 Mei 1993
Hari dimana kami menyusun rencana itu
Tanpa kami sadari, rencana itu berbuah simalakama
Aku turut serta dalam unjuk rasa tersebut
Tanpa rasa takut, ku menyingsingkan lengan baju
Dan hanya dengan
modal keberanian yang gigih
Aku tak pernah menyangka sama sekali, ini adalah
awal aku akan pergi
/3/
Rencana itu sudah dibuat dengan matang
Aku siap melakukan semuanya semua yang diguratkan
Aku meminta ridho-Nya
kuhembuskan nafas dalam-dalam
3 Mei 1993...
Ajakan demi
ajakan bagi mereka yang senasib mulai deras
Sudah nampak
seperti hujan, hujan darahkah? Atau hujan tawakah?
Kobaran semangat terpampang nyata di raut wajah mereka
Di hari itu,
Tak hanya kami para buruh yang berseragam buruh
Banyak pria bertubuh tegap berseragam loreng juga berkerumun
Sepertinya... mereka “menertibkan” kami
Hah... aku harus tetap di jalur optimis
Tergumam beberapa saat,
“Unjuk
rasa yang mungkin membuahkan hasil yang baik
Hasil
yang sepadan dengan kerja keras kami”
Terlintas gambaran wajah nenek dan bibi
Mereka telah mengurus Sinah kecil
Akan kuperjuangkan kencring 550 rupiah ini
Itulah api semangatku.. tak akan pernah padam..
Pikiranku terpusat lagi pada kerumunan teman-temanku
Dengan sigap aku berangkat ke kantor Depnaker
Mencari data kenaikan upah
Data terkuat untuk para buruh
/4/
4 Mei 1993
Tepat pukul 07.00 WIB
Tuntutan pun akhirnya tersuarakan
Hanya dua belas tuntutan yang kami tuntut
Ya... hanya dua belas
Tak banyak
Jumlah tuntutan yang sangat sedikit
Dan menurutku, cukup memakmurkan kami
Para buruh...
Kami berunjuk rasa dengan cara yang selayaknya
Tapi kami tak mendapat perlakuan baik pula dari mereka
Kami memaksa masuk untuk membicarakan tuntutan itu
Namun, yang kami terima hanya kibasan tongkat
Seperti itukah perlakuan yang mereka berikan?
Pantaskah?
Kami jelas-jelas menuntut hak yang memang milik kami
Hak kami sepenuhnya
Data dari Depnaker pun sudah di tangan
Mampukah mereka mengelak?
Mengelak memberikan hak kami
Dan mengelak berhadapan dengan kami
Kami tetap memaksa masuk
Dengan bukti yang kami punya tentunya
Tapi perlakuan mereka betul-betul kurang ajar
Mereka menyobek spanduk kami dan menyebut kami adalah PKI
Akhirnya, usaha kami memaksa masuk terkabulkan
Aku meminta bertemu dengan atasan perusahaan
Kawan-kawan buruhku tak diperbolehkan masuk
Hanya sebagian yang masuk
Aku dan beberapa kawan mewakili seluruh kawan-kawan buruh
Berjalan penuh keberanian
Aku bertemu dengan mereka, para petinggi perusahaan
Aku mulai menyuarakan hak yang kami minta dengan lantang
Beberapa permintaan kulayangkan
Yaitu...
Tak ada yang dirugikan dari pihak buruh
Kalau tidak, meja hijau akan bersuara
Dan mereka menyetujuinya
/5/
Tak disangka,
Keberanian para buruh untuk mengambil haknya semakin kuat
Mereka semakin berani
Semakin kuat
Tapi kurasa,
Keberanian itu akan luluh di hari ini
5 Mei 1993
Luluhnya semangat buruh
Miris aku melihatnya
Tiga belas orang kawanku dipanggil orang berbaju loreng
Mereka yang “menertibkan” kami kemarin
Di panggil tanpa alasan kuat
Ingin rasanya mencaci mereka yang mengambil kawanku
Meludahi mereka
Menginjak-injak mereka
Hanya bayangan, kenyataanya aku hanya meremas tanganku
Aku ditemani kawan buruhku
Hendak bertemu mereka
Mereka yang di ambil
Oleh mereka yang sok bertanggung jawab
Sabar...
Sabar...
Sabar Sinah...
Gumam hati kecilku
Kujelaskan secara baik-baik kepada bapak berbaju loreng itu
”mengapa
kawan-kawanku ditawan?
Bukankah
perusahaan sudah berjanji tidak akan mem-PHK buruh?
Lalu
kenapa mereka dibawa kemari?”
Banyak pertanyaan dalam benakku
Ada apa ini?
Permainan apa yang sedang dimainkan?
Mengapa mengarah ke jenjang yang serius?
Kurasa...
Kami terjebak dalam permainan kotor
Dan kurasa... mereka berusaha mematikan pion kami
Pion buruh..
Dan...
Benar saja
Hati kecilku benar
Hari ini aku hilang
Aku dibawa orang-orang tak dikenal
Ada apa ini?
Apa semua ini?
Aku tak faham dengan semua kejadian ini
Jeritanku...
Permintaan tolongku...
Raungan tangisanku...
Semuanya tak berguna, PERCUMA
Hampir tiga hari aku menghilang
Tak membantu kawan-kawan buruhku berunjuk rasa
Tak tahu kabar mereka
Tak tahu kontribusi unjuk rasa kami
Tapi semua hilang
HILANG
HILANG
HILANG
Aku HILANG
Menjadi jiwa tak bernyawa
Menjadi raga tak berjiwa
Menjadi buruh tak berseru
/6/
8 Mei 1993
Mentari mulai nampak ke permukaan
Sinarnya menembus embun-embun pagi
Cekikikan burung pun mulai terdengar
Segerombolan bocah cilik mulai tampak di pelataran rumah
Mengeluarkan dolanan mereka
Orang tua mereka sibuk dengan aktivitas mereka
Sangat mengharukan
Aku masih bisa mendengar mereka
Aku masih bisa merasakan
Terdiam sesaat mendengar mereka
Batinku terasa pedih...
Terlalu lama hanyut dalam rasa haru
Buyar pikiranku saat seorang anak berteriak
“bu!!
Iki sopo bu? Bu!! Ene mayat bu”
Dalam sekejap kerumunan orang menghampiri mayat tersebut
Aku ikut melihatnya
Itu aku!
Miris hati ini memandang mayatku sendiri
Terbujur kaku, sangat tak wajar
Fisikku hancur lebur
Bukan mayat dengan tubuh sempurna
Ingin rasanya berteriak
Teriak sangat kencang
“jadi
ini yang mereka lakukan?
Membuat
tubuhku hancur!
MEREKA
BENAR-BENAR BIADAB
Mereka
sungguh melebihi IBLIS
IBLIS?
Bahkan
iblis pun mungkin tak sudi mengakui mereka sebagai kawan
Sungguh...
Kenapa
mereka melakukan ini kepadaku?
Aku
bukan binatang
Aku
bukan wanita jalang
Kesalahanku
apa?
Banyak
sekali penderitaanku, Tuhan?
Kutanya
kepada-Mu!
Apa
salahku?
Inikah
balasan-Mu atas pengorbananku?
Selama
dua puluh empat tahun aku selalu sendiri
Tak
mau menyusahkan siapa pun
Apalagi
nenekku”
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran pria berpakaian
coklat
Berusaha mengenali mayatku
Dan ternyata gagal
Akhirnya, membawa mayatku ke dalam mobil jenazah
/7/
Belum usai penderitaanku
Tubuh dinginku mulai di jamah beberapa orang berjas putih
Diperhatikannya tubuhku
Dicatatnya apa yang dilihatnya itu
Apa yang mereka tulis?
Berani sekali mereka?
Kenapa tak kau kebumikan saja aku?
Aku tak sanggup melihat mayatku berlama-lama dikebumikan
HEI!! HENTIKAN!!
Aku sudah menjadi bangkai
Tak usah kalian lihat dan catat lagi diriku itu
Apa kalian kurang puas melihat kehancurleburan tubuhku itu?
Berkali-kali aku peringatkan mereka
Namun hasilnya nihil
Mereka tak mendengar
Usaha yang sia-sia
Aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi
Aku tak bisa menuntut seperti kemarin
Menyuarakan ketidaksukaanku
Menyuarakan hak diriku dan kawan-kawanku
/8/
Setelah aku tiada
Semua semrawut
Kawan-kawanku dituduh membunuhku
Kawan-kawanku tersiksa
Tak hentinya aku mengeluarkan air mata
Miris aku melihat mereka
Tersayat-sayat hatiku
Perih rasanya
Mereka dipaksa mengaku yang bukan sebenarnya
Jiwa mereka kesakitan
Bukan...
Bukan mereka...
Ingin rasanya aku bangkit dari kuburku
Mengatakan semuanya
Kejujuran
Kenyataan
Kalaupun aku diberi kesempatan itu,
Akan Kuutarakan...
“bukan
mereka yang melakukan!
IBLIS
itu yang melakukannya
Jangan
kalian bertindak semena-mena kepada kawanku
Kalian
tahu?
Ini
semua permainan IBLIS itu!
Mereka
yang membinasakanku layaknya binatang
Mereka
yang menghilangkan semua anganku
Mereka
tak tahu
Tak
pernah tahu
Betapa
beratnya hidup yang kualami
Dan
mereka semua melengkapi itu
IBLIS
keparat itu yang berdusta
Buruh...
Bukanlah
pekerjaan hina
Bukan
juga pekerjaan yang harus dihina
Dari
surya belum nampak
Sampai
surya terbenam
Kami
tetap teguh dengan pekerjaan kami
Kami
yakin kalau pekerjaan kami itu mulia
Istirahat
yang terbatas
Pergerakan
tubuh yang terbatas
Percakapan
yang terbatas
Dan
konsentrasi yang totalitas
Tak
pernah sekalipun hal itu melunturkan semangat kami
Tak
pernah kami mengeluh
Karena
kami menyadari
Itu
salah satu kemampuan yang bisa diandalkan
Untuk
menghidupi kami dan keluarga kami
Kami
tak pernah malu
Kami
tak merasa risih
Sedetik
pun
Sekali
pun
Namun
apa bayaran dari dedikasi kami ini?
Kami
bukan manusia berjiwa robot
Manusia
ya manusia
Butuh
hidup
Kencring
550 rupiah bukanlah angka besar
Memangnya
tak bisakah kencring itu diberikan kepada kami?
Kencring
itu berarti
Bagi
kami dan keluarga kami
Hanya
kencring itu yang kami tuntut
Hanya
kesejahteraan buruh yang kami tuntut
Itu
bukanlah hal yang rumit
Itu
bukanlah tuntutan yang sangat berat”
Kata-kata itu akan keluar kalau aku hidup kembali
Dan nyatanya...
Aku tidak lagi berpijak di tanah-Nya
Ragaku sudah dimakan belatung-belatung lapar
/9/
Kematianku menjadi kontroversi
Layaknya selebritis papan atas
Banyak yang mengangkat lagi kasusku
Cih... sok pahlawan
Ya, awalnya aku percaya kalau mereka akan mengungkap
kebenaran
Nyatanya...
Tidak sama sekali
Hanya janji belaka
Tak ada gunanya mereka tampil ke depan
Mengeluarkan argumentasi-argumentasi mengenai aku
Mengeluarkan data forensik
Yang belum tentu kebenarannya
Buat apa mereka bercicit cuit lagi?
Semua datanya palsu!
Tragediku sudah ditutup
Dengan sangat bisu
Kalian hanya mencari kucing dalam ruang kosong
Tak ada gunanya
Nampak seperti orang bodoh
Mengharapkan dapat yang sudah tak ada
Awalnya, aku terima liang lahatku dibuka
Dibongkar
Dan mayatku ditarik kembali dari tempat sunyi itu
Karena aku paham, mereka membutuhkan itu
Walaupun hati kecilku tak terima
Namun, mereka kurang puas dengan yang pertama
Mayatku ditarik lagi untuk yang kedua kalinya
Aku mulai risih
Amarahku mulai memuncak
Dan sekarang mereka mengambil mayatku
Untuk ketiga kalinya
Amarahku membludak
Sudah tak karuan
“kalian
pikir aku ini sampah daur ulang?
Diambil
kemudian dikubur lagi
Diambil
lalu dikubur lagi
Diambil
dan dikubur lagi
Kurang
puas kalian mempermainkan mayatku
Memang
awalnya aku mengizinkan mayatku diambil
Dengan
harapan kalian bisa menguak tragediku
Tapi
ini sudah ketiga kalinya kalian membongkar
Mana
kebenaran yang akan kalian buktikan?
Terkuakkah?
Tidak
kan?
Lalu
apa gunanya kalian membongkar makamku”
Umpatan itu muncul lagi
Namun tetap saja,
Tak terdengar
Hanya kata-kata mati
Tangisanku menderu kencang
Tak bisa kutahan
Tak mampu kumenahan
Sangat tak bisa
“Ya...
walaupun aku hanya wanita muda
Wanita
berusia 24 tahun
Yang
berasal dari Nganjuk
Desa
Nglundo
Wanita
yang masih banyak angan
Wanita
buruh
Tapi
aku tetap manusia yang tidak menginginkan kebatilan
Cukup!
Itu hanya terjadi kepadaku saja
Biarlah
namaku menjadi kenangan
Namun
jangan biarkan semangatku binasa
Jangan
biarkan para buruh terinjak
Pada
kebatilan yang tak terungkap
Terima
kasih...
Untuk
orang-orang yang masih sayang kepadaku
Untuk
mereka yang tetap di jalan kebenaran
Untuk
mereka yang tetap mengobarkan semangat buruh
HIDUP
BURUH!!!
HIDUP BURUH!!!
HIDUP BURUH!!!
No comments:
Post a Comment